"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Ramainya "Usum Nyawah" Di Indramayu

Oleh DASAM SYAMSUDIN
Saat musim hujan tiba, bagi masyarakat Indramayu merupakan anugrah Tuhan yang sangat berharga. Karena, saat hujan mengguyur persawahan, ladang dan perkebunan, wong Indramayu akan memulai aktivitas nyawah. Nyawah merupakan mata pencaharian sebagian besar penduduk kabupaten yang memiliki dua bahasa ini, yakni sunda dan jawa. Kendati demikian, disamping nyawah, pada musim hujan ada pula masyarakat yang menggarap kebun, kalaupun hanya sebagian kecil penduduk saja.

Ketika musim nyawah tiba, para penduduk yang mencari mata pencaharian selama usum katiga (musim paceuklik atau kemarau) akan pulang ke kampung halamannya. Misalnya, masyarakat kecamatan Gantar, dimana saya tinggal disana. Pada usum katiga, penduduk yang bekerja di luar daerah (di luar kabupaten Indramayu), seperti kuli bangunan, berdagang dan lain sebagainya. Apabila telah datang usum nyawah, mereka akan "mudik" semata-mata untuk menggarap persawahannya.

Di Indramayu, terjadinya musim hujan berkisar selama enam bulan atau setengah tahun. Sehingga, usum nyawah dari jangka waktu itu, terjadi dua kali, sebab jangka waktu satu kali panen adalah tiga bulan. Denga demikian, pembagian usum nyawah di Indramayu di sebut dengan istilah panen rendeng dan panen sadon.

Dikatakan Usum rendeng, karena persawahan di tanami padi pada musim hujan tiga bulan pertama. Biasanya usum rendeng hujan sering turun, dan persawahan selalu terairi, sehingga tanaman padi menjadi "rindang" (baca: subur). Menginjak usum nyadon, curah hujan mulai berkurang, dan biasanya hasil panen cenderung lebih sedikit di banding panen rendeng karena padi kurang "rindang".


Penggarapan sawah

Penggarapan sawah di daerah Indramayu, masih sangat ramai dan digeluti dengan serius. Dalam menggarap sawahnya, pertama-tama para petani ngawaluku tanah sawah dengan traktor agar tanahnya hancur (tidak keras) dan mudah ditanami padi. Sedangkan bagi penduduk yang memiliki sawah di hutan, mengolah tanahnya dengan mencangkul atau ngawaluku menggunakan tenaga kerbau atau sapi. Setelah selesai diwaluku, sawah akan digaru atau digelebeg (di garuk-garuk) agar tanahnya menjadi lebih halus.

Kemudian, sawah akan ditanamai padi muda (nandur). Dari usum nandur sampai usum tatanen, agar padi tumbuh subur dan sehat, para petani akan memberi pupuk pestisida, urea atau pupuk kandang, disamping itu, sawah akan di rambet atau digarok. Ngarambet sawah tiada lain agar sawah bersih dari rumput atau tanaman pengganggu lainnya. Sedangkan ngagarok disamping membunuh rumput, juga untuk melancarkan aliran air disela-sela tumbuhan padi.

Hama lain yang menggangu sawah adalah belalang, seperti simet kalapa, jonggrang, ewen, dan belalang lainnya. Untuk menyingkirkan belalang, petani bukannya membunuh atau memusnahkannya, melainkan mengobor atau nyerog. Ngobor atau nyerog adalah menyingkirkan belalang dari padi dengan cara menangkap belalang, baik dangan tangan atau dengan alat. Setelah belalang terkumpul banyak akan dimasak dan dijadikan lauk-pauk. Disamping padi terselamatkan, biaya dapur pun bisa sedikit lebih berhemat.

Musim panen

Setelah melewati berbagai kelelahan mengurus sawah dan kerinduan akan "padi yang menguning" (baca; panen) petani akan mendapat kebahagiaan yang sangat besar. Betapa tidak, bagi seorang petani memandang padi yang menguning keemasan adalah kebahagiaan tersendiri. Bahkan, kakek saya mengatakan, "hamparan sawah yang menguning, bagaikan emas". Ucapan ini rasional, karena disamping warnanya yang indah, para petani pun siap mengantongi keuntungan dari hasil nyawahnya.

Puncak penggarapan sawah, yakni pada musim tatanen. Pada musim ini, akan banyak paderep (kuli memotong padi) yang berdatangan dari berbagai daerah (baca: kampung), dan tidak sedikit yang sengaja mendirikan tenda pemukiman di sawah bagi yang daerahnya jauh. Apabila ada salah seorang penduduk yang memanen padinya, maka dengan serempak para penduduk akan ikut derep atau gacong (memanen sawah). Suasana sawahpun akan sangat rame, suara sayatan arit (alat pemotong padi) begitu berirama saking banyaknya penduduk yang ikut memanen padi.

Bahkan, jika "juragan sawah" (orang yang mempunyai sawah lega) panen, wah, para penderep akan membeludak dan mengoyak hamparan padi dari berbagai penjuru sawah. Bagi masyarakat daerah yang jarang pesawahan, mungkin akan terasa aneh atau bahkan tidak percaya. Tapi, itulah usum nyawah di Indramayu. Khusunya di Gantar yang setiap musim nyawah selalu saya alami keramainnya.

Masyarakat yang turun ke sawah bukan hanya kalangan tua, tapi hampir semua kalangan masyarakat, dari yang tua sampai kaula muda. Sebagai ciri khas mata pencaharian wong Indramayu. Derep lumayan lebih menguntungkan di bandingkan dengan kuli bangunan atu kuli lainnya yang « sederajat » yang sehari hanya mendapat upah sekitar Rp. 30.000 sampai 70.000. Sedangkan derep, rata-rata sehari bisa mencapai 70.000 sampai 100.000,- karena, sistem bagi hasil membantu memanen (derep) akan "dibagi enam". Jika paderep mendapat mendapat 3 kwintal padi, maka ia akan mendapat upah 50 Kg. jika Rp.2.000/1 Kg maka kuli derep akan mendapat 100.000,-. Harga yang lumayan besar bukan ?

Dengan demikian, nyawah di daerah Indramayu masih sangat di "geluti" sebagai ciri khas mata pencahariannya. Di sisi lain, bertani juga menjaga keseimbangan kelesetarian alam. Karena alam selalu di jaga dengan keindahan tanaman.***

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...