"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Dai [Tukang] Kuli Bangunan


Oleh DASAM SYAMSUDIN

“Sampaikanlah (apa-apa) dariku, walaupun satu ayat” -Rasulullah saw. (al-Hadits)

Jika pengertian da’i secara sederhana adalah seseorang yang mengajak terhadap ajaran Allah. Maka, da’i ini bukan seseorang yang pandai dalam retorika dakwah. Ia juga bukan seorang ustadz apalagi ulama kondang. Dan, ia juga bukan jebolan pesantren. Selain itu, da’i ini mempunyai masa lalu yang “hitam”.



Kerana sebelum ia memahami ajaran agama Islam, ia sempat menduakan Tuhannya, shalatnya pernah bolong, puasanya sering tidak tamat sebulan, dan jelas bukan ahli sunnah. Akan tetapi, da’i ini adalah seorang tukang kuli bangunan.

Memang tidak tepat jika mengatakan ia seorang da’i, karena kenyataannya ia hanyalah seorang tukang kuli bangunan. selain itu, ia juga bukan orator yang selalu berceramah di depan umum mengajarkan ilmu Islam. Saya menyebutnya da’i, karena ia selalu mengajak seseorang agar beribadah kepada Allah dan meninggalkan kemusyrikan. Seruan ini ia lakukan tentu saja saat ia bekerja sebagai kuli bangunan, dan objeknya adalah teman-temannya.

Walaupun ia pekerjaannya tukang kuli bangunan, namun ia sering mendapatkan posisi sebagai mandor, dan terkadang sebagai pemborong kecil-kecilan. Nah, posisi yang ia dapatkan ini dimanfaatkan sebaiknya untuk mengajak teman-temannya atau rekan kerjanya-sebetulnya anak buahnya, cuma dia gak suka ada relasi tuan-budak-untuk beribadah kepada Allah. Hasilnya, lumayan baik. Setiap selesai bekerja, atau sedang beristirahat, da’i ini membiasakan dirinya dan rekan kerjanya membahas persoalan agama. Dia selalu berusaha memancing agar rekan kerjanya bertanya persoalan agama. Sehingga, mereka terbiasa membahas hal-hal keagamaan sebagai pengisi waktu luangnya.

Dengan demikian, lama-kelamaan banyak tukang kuli yang memahami arti kewajiban beribadah. Sehingga, yang tadinya jarang beribadah jadi sering beribadah kepada Allah.

Bahkan, para pemuda yang bekerja padanya, yang biasanya mabuk-mabukan, tidak sedikit yang merubah perilakunya dan menjadi ahli ibadah. Yang sangat menariknya lagi, ia juga sering mengadakan pengajian beserta teman-temannya atau rekan kerjanya setiap ba’da maghrib. Biasanya yang sering dibahas adalah masalah fiqih yaitu tata cara beribadah. Karena ia bukan seorang ahli agama, maka untuk mempokuskan pengajian tersebut da’i kuli ini selalu membawa kitab-kitab keagamaan, khususnya fiqih dan majalah Islam. Majalah Islam? Saya kira itu hal bagus. Dengan membawa majalah Islam, mereka bisa mengikuti pelbagai persoalan agama yang aktual. Majalah selalu menyajikan hal tersebut. Bukan begitu?

Saya kira untuk ukuran tukang kuli bangunan, bukan jebolan pesantren, dan ia memahami ajaran Islam pun dari pengembaraanya sebagai tukang kuli yang selalu berpindah tempat. Sangatlah menakjubkan, karena yang mengikuti ia tidak sedikit. Ia telah banyak merubah para tukang kuli menjadi seseorang yang merasa bahwa ibadah itu wajib di manapun dan dalam kondisi apapun. Dan, ucapannya yang sangat berpengaruh adalah, “Allah tidak akan menyia-nyiakan kuli bangunan seperti kita yang selalu meluangkan waktu sempitnya untuk beribadah. Karena, sesungguhnya apa yang kita lakukan (kuli bangunan) adalah ibadah, jika kita mau membuat tiang agamanya, yaitu shalat”.

Tentu saja seseorang tidak mau apa yang ia lakukan dari pagi sampai sore menjadi sia-sia (bukan termasuk ibadah). Sehingga, shalat sebagai wadah atau tiangnya agama, menjadi sesuatu yang harus bahkan sangat wajib dilaksanakan. Apalah arti bekerja sehari-hari, banting tulang mati-matian jika tidak mempunyai nilai pahala di sisi Allah. Dengan demikian, walaupun mereka tukang kuli, setiap kali waktu shalat tiba, mereka selalu menunaikan kewajibannya, bahkan shalat subuh pun mereka berjama’ah. Sungguh, dakwah yang efektif, dan ajaran kedisiplinan yang baik.

Apa yang saya katakan di atas, itu adalah apa yang saya alami juga, karena saya pernah mengikuti da’i itu. Saya pernah jadi pegawainya selama libur semester, sekitar tiga minggu. Saya kira dari hal demikian, kita semua bisa mengambil hikmahnya. Bayangkan saja, apabila seorang pemborong bangunan, kontraktor, mandor pegawai pabrik, direktur perusahaan besar, tuan pemilik toko, dan lain sebagainya. Jika mereka mengajak dan mengajari para pegawainya untuk beribadah, berusaha memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu mempunyai nilai ibadah. Bukankah hal itu sangat luar biasa.

Dengan demikian, kehidupan religiusitas masyarakat tidak akan sepi. Sejatinya, seorang yang mempunyai pengaruh, seperti halnya pemimpin pegawai, haruslah mementingkan nilai spiritual para pegawainya, bukan hanya mementingkan tenaga mereka saja. Dakwah seperti ini, sangatlah mulia. Saya pernah mendengar dari rekan kerja da’i itu, “Bos kita itu, sangat peduli terhadap pegawainya. Ia bukan hanya memperhatikan masalah bayaran kami (dunia) saja, tapi juga mementingkan ibadah kami (akhirat)”. Nilai plus yang sangat hebat sekali, karena seorang pegawai seakan mendapatkan perhatian yang sangat luar biasa dari bosnya. Adakah perhatian yang lebih berarti, dari pada perhatian dunia dan akhirat?

Oleh keran itu, kiranya semua orang bisa berdakwah (menyerukan kebaikan), siapa pun dan di mana pun. Dan jika para bos, pemborong, kontraktor, mandor, direktur dan pemimpin pegawai muslim memperhatikan masalah ini, akan banyak umat muslim yang hidupnya tidak sia-sia (untuk nilai akhirat), sebab ucapan mereka sangat berpengaruh. Karena, apa yang mereka (baca: pegawai) usahakan-bekerja apapun-akan menjadi nilai ibadah, jika mereka menyandingkannya terhadap Allah swt dengan melaksanakan rukun Iman, Islam dan Ihsan. Lantaran tiga hal itulah hidup di dunia ini selalu bernilai akhirat, walaupun hanya bagi tukang kuli bangunan, tenaganya adalah asset ibadahnya, bukan hanya sekedar
mesin pencari uang. Wallahu A’lam.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...