"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Don’t Cry

Aku pernah jalan - jalan di dunia imajinasi. Di sana ku temui seorang bocah laki – laki. Anak itu mukanya pucat. Air matanya mengalir. Menambah jelek raut wajahnya. Dia hitam, kucel dan bajunya compang camping. Tak bercelana, hanya Koran perisai bagian tubuhnya.. Sebagai orang baik aku sapa dia.

“Nak, kamu menangis jelek sekali”Mendengar itu, dia kaget. Spontan nangisnya berhenti. Mungkin ucapanku menghiburnya.

“Huk… huk… huk..” Tidak! Aku salah faham. Anak itu sekarang menangis dengan sedu sedan. Pokoknya dahsyat abis. Ma’af, next wajahnya lebih buruk dari manusia buruk rupa akibat tangisannya. Aku tahu ini salahku. Ucapanku telah menyinggungnya. Baik, sekarang kurubah pertanyaanku agar lebih manusiawi.

“Wahai seorang anak yang kesepian. Apa gerangan yang membuat engkau menangis tersedu sedan?” Sekarang dia pasti akan menjawab. Betapa manisnya pertanyaanku.

“Kamu! Kamu yang buat aku tambah sedih” What! Apa! Masya Allaht. Kok dia nyalahin aku. Jujur, aku tersinggung. Kudebat aja tuduhannya.

“Aku! Kurang ajar… Kok kamu nyalahin aku” Sekarang aku kesal pada anak itu. Dasar anak manusia. Gak sopan pada wong tua. Apa dia tidak berpendidikan.

“Iya, kamu. Udah tahu lagi sedih. Malah di bilang jelek.” Bicara sambil nangis dia. Menambah jelek wajahnya.

“Eh… kamu ini gimana sih. Masa aku harus bohong. Kamu itu memang jelek. Huk… huk….” Anak gak beragama. Masa mau menjadikan dirinya fitnah. Kalau udah jelek, ya jelek aja. Kejujuran malah di fitnah. Dasar zaman edan.

“Kamu! Orang tua tidak berperasaan. Huak… huak…huak…”Eh, nangisnya malah nambah kencang aja. Ya Tuhanku. Aku harus bagaimana? Haruskan aku bohong padanya. Bahwa ia wajahnya genteng. Terima kasih Tuhan. Sekarang aku tahu solusinya.

“Wahai anak yang cakep. Putih dan baik. Kalau kamu nangis terus. Kamu akan tambah jelek. Bisa muntah aku dibuatynya. Coba kamu berhenti nangis. Kemudian senyum, pasti akan lebih ganteng.”Tuhan ma’afkan aku. Jelas, aku telah memfitnahnya.

“Masa! Aku ganteng? He… he…”Dia tersenyum gembira. “Duh! Betapa sial nasib anak ini. Tak ada perubahan padanya. Dia memang jelek.” Tuhan ma’afkan aku telah mengungkapkannya.

“Nah, kalau senyum kan. Ehm…. Kamu jadi ehm… jel…”

“Jel… apa Om?” anak itu penasaran.

“Jel… jelas gantengnya” Dia kira siapa dirinya. Mau dikatakan ganteng.

“Eh, kenapa sih kamu nangis?”Aku interogasi dia. Penasaran.

“Ini Om. Aku belum makan. Ngamen gak ada yang ngasih” Dia curhat padaku. Sok kenal banget anak ini.

“Emang orang Tuamu kemana?” Aku nanya dia. Aku kan orang baik.

“Gak tahu. Udah mati kali. Biasa Om. Yatim. Nyumbang dong Om.” Anak itu coba ngerayu aku. Jangan harap kau bisa menggodaku nak.

“Beruntung kau gak punya orang Tua. Lumayan tuh, ada tempat khusus di Surga. Sebelas-dua belas dengan Nabi.” Ingin rasanya aku seperti dia. Disurganya, bukan yatimnya.

“Om, Surga makanan apa ya? Atau apa Om?”Anak malang. Surga gak kenal.

“Surga itu gehu! Surga itu, tempat yang indah di akhirat nanti. Kalau kau jadi anak baik dan soleh. Kau akan masuk sana. Juga wajahmu gak jelek lagi.” seperti ulama juga aku. Bisa ceramah.

“Betul gitu Om. Nyumbang donk Om biar Om masuk surga.” Sekarang aku kena rayuan anak ini.

“Yah, baru sekarang aku termakan omongan sendiri. Ok. Nih gocap” Jujur, aku ikhlas ngasih anak ini. Karena aku buka orang pendusta agama.

“Makasih Om. Dadah Om.” Dasar anak jelek. Udah dapat nipu orang, lari.

Itulah perjalanan imajinasiku. Menyedihkan.


Dasam Syamsudin
Aktivis IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...