"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

AKU BUKAN OFORTUNIS

“Sayang, kamu dari mana? Katanya mau jenguk aku pasca dzuhur” itu pacarku yang bicara. Dia sakit. Sakit gak parah, Cuma kangker payudara. Sumpah! Bukan aku pelakunya. Itu sudah taqdir Allah. Kamu yakin akan taqdir Tuhan. Yah, itu contohnya. Enaknya dia, sekarang nginap di Rumah Sakit Al-Islam Bandung.

“Aku baru pulang kuliah. Tadi sedikit membahas tugas di perpus sama teman” nah, ini baru aku yang bicara. Kamu tahu kan, aku salah satu mahasiswa tauladan di UIN SGD Bandung. Pacarku sama kuliah di sana.

“Oh, kirain main dulu”pacarku curiga.

“Enggak, masa main. Kan pacarku sakit mana sempet aku berbuat hal yang melalaikan menurut Allah” Jangan kau anggap aku menasehati kalian. Tapi, aku memang mahasiswa ber-religi. Ma’af maksudnya beragama.

“Sayang, duduk dongk! Kayaknya gak mau nemanin pacar yang sedang sakit” dasar wanita gombal. Bisanya merayu keimanan lelaki. Sial aku punya pacar. Udah manja, penyakitan lagi. Emang cantik, tapi, kalo penyakitan? Gak tahu ah!

“Sayang, kok diam aja” Astaghfirullah pacarku marah.

“Eh, iya. Lupa, he… he…” sedikit ketawa biar menghibur.

“Ma’af ayang, aku agak ngantuk” paling be te nich, kalau sudah datang si ngantuk. Ngerubetin juga cewek ini. Orang ngantuk diganggu.

“Sayang, kalau aku sembuh kamu mau ngasih apa?” Pacarku coba ngarayu aku dengan kata – kata yang tidak sepantasnya diucapkan oleh wanita. Seharusnya gini, “Sayang kalau aku sembuh, aku mau kasih kamu kejutan” Nah, kalau gitu aku akan doakan dia biar sembuh. Penasaran dengan kejutannya. Kalau dia ngomong gitu. Mana mau aku doain dia biar cepat sembuh. Aku aja lagi kanker (kantong kering). Ini jawabanku.

“Kalau, Ayang sembuh. Aku mau ngasih kejutan”

“Apa kejutannya?” Pacarku penasaran. Maklum wanita suka yang mengejutkan. Ma’af bukan maklum. “Dasar wanita! Maunya gitu melulu.

“Gak mau bilang ah. Namanya juga kejutan” Yah, sayang kalau kau sembuh aku akan beri kejutan. Kejutan yang dahsyat. Yakni bin yaitu, aku akan putuskan kau. Mana mau aku punya pacar penyakitan. Ihhh.... enggak deh.

“Ah, Ayang. Ada-ada aja?” Ih! “Ada-ada aja” dia bilang. Ada sayang,aku punya kejutan yang akan buat kamu lama di Rumah Sakit yang kamu impikan ini. Kami, bukan orang kaya. Makanya pacarku dulu pernah bilang, kalau sakit mau di bawa kerumah sakit. Katanya enak, ada kasur empuk dan gedungnya tinggi. Aneh emang pacar aku itu?

Aku bosan dialog dengannya. Udah aku rayu aja dia biar mau tidur.

“Santai aja Sayang. Aku pasti akan memberi kamu sesuatu yang sangat berharga. Yah, sangat... udah sekarang jangan mikir apa-apa lagi. Sekarang Ayang tidur aja. Istirahat yang tenang.”

“Iya, aku juga dah ngantuk. Tapi, cium dulu yach” Dahsyat bener rayuannya. Pake mau dicium segala. Tak adakah di dalam diri wanita rasa takut pada api neraka. Gak pernah baca apa, kalau neraka doyan wanita. Tapi, tumben Cuma minta dicium biasanya lebih menyesatkan.

“Just For you, aku tidak mau, Haram hukumnya” aku pasti menyinggungnya. Habis, bagaimana lagi, aku gak mau masuk neraka gara-gara wanita, kurang keren, mendingan nahan aja. Kali aja dapat surga, shaum.

“’Gak apa, gak mau juga. Makasih Sayang sudah perhatiin aku, I lvoe you” Itulah kata-kata terakhirnya. Sekarang dia tenang di alam lain. Bukan alam akhirat. Alam mimpi.

“I love you to honey” ini juga kata – kata terakhirku padanya. Mungkin dia akan sembuh. Dan saat itu aku akan meninggalkannya. Aku sangat mencintainya. Dan aku tak ingin menyakiti diriku. Dia cantik juga perhatian. Dan selamanya aku akan mengenangnya. Satu hal, yang tidak bisa aku berikan kepadanya. Kesetiaanku. Sayang aku bukan oportunis. Walau sekarang aku memilih diriku, daripada dirimu. Terlalu aku menginginkanmu. Lebih dari itu, aku ingin tubuhmu. Namun aku gak mau oportunis. Kata nenekku, pacaran itu kurang baik kalau jauh dari pernikahan.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...