"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Catatan Garing 18: Letter Love to Santriawati

Bagian Delapan Belas

Waktu itu angin niup-niup pepohonan tidak lembut, mengguncang-guncang ranting kecilnya. Angin tidak lembut itu menyebabkan gue, Cecep dan Saeful yang sedang duduk di beranda masjid menggigil kedinginan. Cecep yang berselimut sarung cap Gajah Duduk, duduk di depan gue sambil baca kitab. Dan Saeful yang tidak berselimut sarung, duduk di samping Cecep sambil melihat-lihat secarik kertas, kertas itu bukan hanya diliatin saja, tapi juga didekapkan ke dadanya, terkadang, kertas itu diciuminya juga. Anehnya lagi, Eful selalu memberi senyum pada kertas itu, seperti sedang merayu atau menggombalinya.


Gue tau Cecep sedang baca kitab dan Eful—menurut subjektivitas gue—sedang mencabuli kertas, sebab gue duduk di hadapan mereka sambil liatin kegiatan mereka yang ganjil. Kenapa ganjil? Sebab ini waktu sudah larut malam dan lampu yang berada di dalam masjid sudah padam. Jadi gak cocok membaca atau melihat sesuatu yang menjelma di dalam kertas.

Kembali gue merhatiin Cecep yang dari tadi tunduk seolah matanya memperhatikan kitab tanpa berkedip. Sekedar meyakinkan atau mempermainkan Cecep. Gue ambil itu kitab dari tangan Cecep. Aneh! Gue kira dia bakal kaget, ternyata tidak. Itu Cecep terus aja nunduk, seolah jejak-jejak huruf dari kitabnya yang gue rebut masih berada dipangkuannya. Gue penasaran dengan kependiaman Cecep. Karena penasaran itu, gue coba mengguncang-guncang tubuh Cecep. Ow! Ketika gue guncang-guncang, tubuh Cecep langsung tumbang. Ia terkulai lemas, lalu tubuhnya roboh ke arah kanan dan kepalanya yang lebih besar dari ukuran normalnya membentur keramik dengan keras. Lalu apa yang terjadi dengan kepalanya? Kepalanya baik-baik saja. Keramiknya saja yang tidak tahan banting. Keramiknya belah.

Eful melirik Cecep yang sedang ngorok. Sambil tersenyum ia ngambil sarungnya. Membuat Cecep kedinginan. Tapi tidak membuatnya bangun, sebab Cecep kalo udah tidur mirip beruang kutub. Tahan gangguan apapun.

Dipikir-pikir, gue enek juga lihat tingkah laku Eful. Bayangin aja, terkadang ia lihat secarik kertas yang di pegangnya, terkadang juga ia melirik-lirik gue, pake senyum segala lagi. Itu, belaga orang tampan aja.
“Ful, apa-apaan sih, lo. Liatin gue terus?...”
“Siapa yang liatin, loe? Orang gue lagi ngebayangin”
“Ngebayangin?”
“Iya, seandainya loe itu Melan. Pasti malam ini malam terindah”
“Kalau kenyatannya gue bukan Melan?”
“Berarti ini malam terburuk”
“Sialan loe!”
***

Besoknya… sekitar pukul 06.00 ba’da shalat subuh???...

Gue duduk di atas kursi menghadap meja di dalam asrama santriawan yang bernama “Hasan Al-Bana”. Duduk sambil ngerokok Djarum Cokelat yang waktu itu sebatang Rp. 500. Kalo lagi gak punya duit, biasanya gue duduk-duduk seperti itu sambil ngebako. Tahu, kan? Mirip ngegele?!

Pagi indah yang sedang gue nikmati, tiba-tiba saja jadi tidak nyaman. Itu terjadi karena Eful sedang berjalan menuju arah gue. Dan pasti mau menemui gue. Eful berjalannya agak belagu, dia jalan sembari bersiul, mulutnya terkadang menyemburkan asap bako. Bener, kan? Eful mau nemuin gue. Dia udah berdiri di hadapan gue. Sial!!
“God morning, Sem?...”
“Hmmm…”

Eful diam sesaat sambil memberi senyum sesat. Lalu “BRAK!!!” menggebrak meja dengan keras dan dengan tiba-tiba, bikin gua kaget.
“Apa-apaan sih, lo?!”
“Sem, kertas itu. Kertas itu, Sem…”
“Iya, ada apa dengan kertas itu?...”
“Kertas itu udah gue kirim ke Melan”
“HAH!!!!”
“Iya!!...”
“Jadi??!!...”
“Iya, gue ngirim surat ke Melan. Hebatkan?...”
“Hebat?! Hebat loe bilang! Melan itu kan…”
“Iya, gue tahu”

Di tengah-tengah percakapan menegangkan gue dan Eful, tiba-tiba saja ada santri kelas satu berlari membawa sebuah amplop tebal. Entah bisu, entah apa? Santri kelas satu itu langsung saja memberikan amplop putih tak bernama ke Eful.
“Dari teh Melan” kata santri kelas satu itu.

Mendengar kata melan, mulut Eful yang sedang menyeringaikan senyum jadi mengkerut kembali ke posisi awal. Mulutnya kembali menganga, dadanya berdenyut seperti mau meledak.

“Oh… Melan membalas surat gue” kata Eful sambil membuka amplop itu dengan tergesa-gesa. Sepertinya Eful mau sombong ke gue. Surat itu dibukanya di hadapan gue, dan anehnya ngajak gue membaca bareng-bareng.

Kepada Yth
Saeful Anam
Di tempat

Walaikum Salam….
Al-hamdulillah kabar Melan baik-baik saja.
To the point aja!
Kang Eful…
Melan sangat menghargai Akang sebab mengirim surat ini. Melan juga berterima kasih atas perhatiannya. Dan Melan juga mengapresiasi atas keberanian Akang mengirim surat.
Kang Eful…
Melan tidak sepenuhnya mengerti isi surat Akang. Maaf, di samping tulisannya sukar dibaca (tulisan akang jelek, sekali lagi maaf). Melan juga tidak begitu memahami maksudnya. Melan memuji dengan untaian bahasa puitisnya. Tapi maksudnya apa? Gak ngerti sama sekali. Apalagi ada kalimat, “walau pun keamanan Pesantren menumpahkan lautan dan menimpakan seribu cambukan, aku akan tetap me….(katat terakhir itu tidak terbaca).
Kang Eful…
Maaf! Sebetulnya akang ngirim surat itu mau nembak (ngajak jadian) saya atau mau menyombongkan diri. Kenapa isi surat itu kebanyak memuji diri Akang sendiri dari pada Melan. Kenapa surat itu juga banyak menghina keamanan Pesantren?
Kang Eful…
Apa pun yang akan tulis di dalam surat Melan bisa menyimpulkan, yaitu akan mengajak santriawati pacaran dan menghina keamanan pesantren. Dan, maaf, Kang. Melan gak nerima Akang berbuat demikian. Akang sudah mencorang nama baik keamanan satriawati. Akang juga melanggar peraturan besar pesantren, yaitu dilarang pacaran. Akang tahu kan hukumannya apa kalau ketahuan pacaran dan ngirim surat cinta.
Kang Eful…
Dengan hormat Melan meminta Akang agar segera taubat kepada Allah swt. Dan dengan ikhlas menyerahkan diri kepada sie Kemanan. Itu lebih baik dari pada Keamanan yang nyariin Akang. Karena seluruh isi surat yang akang tulis itu Melan berikan kepada Sie Keamanan Santriawati.
Mohon maaf atas kekhilafan.

Wassalam…
Melan Nur’aini

Baru saja Eful selesai membaca surat balasan dari Melan. Ada seorang santriawan kelas satu memanggilnya.
“Kang Eful….” Kata anak itu
“Iya…” Eful menjawab sambil melipat surat itu dengan tangan yang bergetar-getar.
“Kata Keamanan Pesantren, Akang disuruh menghadap”
“Di mana?...” jawan Eful sambil nangis sebelah muka.
“Di masjid”
“Berapa orang Keamanan yang manggil?”
“Seluruh Keamanan. Santri lain sepesantren juga ada di dalam masjid”
“Ngapain?!”
“Mau lihat Akang”

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...