"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Catatan Garing 7:Kelapa Pak Ustadz

Bagian Tujuh

Di balik kegelapan malam dan perut keroncongan. Gue dan Muslim berdiri kokoh di depan masjid melihat keadaan sekeliling. Gue dan Muslim kebagian jatah ngeronda oleh seksi keamanan. Saat itu sekitar pukul 10 lewat 3 jam. Jam satu maksudnya. Kami nggak melakukan apa-apa, sumpah, hanya berdiri. Tambah sebel boleh dong mengekspresikan kondisi kami saat itu dengan bergaya.

Misalnya, Muslim berdiri dengan tangan menyentuh perutnya, mengelus-ngelus dan memijatnya. Seperti isyarat agar perutnya berhenti ngemiscall (anggap aja: suara perut minta diisi). Kalau gue lain lagi. Gue, berdiri kokoh dengan jari tangan membentuk isyarat menunjuk, tidak jauh yang gue tunjuk. Kepala gue sendiri. Artinya gue sedang berpikir. Contoh ekspresi tadi bukan misal, tapi kenyataan. Jujur aja, gue dan Muslim kelaparan. Muslim gak tahan lapar mijit-mijit perutnya dan gue berpikir mencari makanan.
Kata ustaz, malam itu adalah waktu yang baik untuk berpikir. Hmmm, pernyataan itu benar. Karena saat gue kelaparan ditambah kehausan. Eh, nemuin solusi. Yups, kelapa. Aha!, di belakang rumah pak ustaz, ada pohon kelapa yang sudah mempunyai ibnun dan bintun. Bahasa biologi-nya pohon kelapanya sudah berbuah. Kalo menurut orang Belanda, “ ada The Gun?” Artinya, ada kelapa mudanya ? Nah, kalo kata orang Sunda ada dawegan-nya? Maksudnya sama, ada kelapa mudanya yang pas buat isi perut.
***

Dengan sangat profesional, misi memetik buah kelapa (memetik, bukan mencuri) sejauh ini berhasil. Sekitar tiga meter dari masjid kami sudah melakukan perjalanan. Tiga menit kemudian kami sampai di bawah pohon kelapa yang sangat tinggi bagi semut, sedangkan bagi gue lumayan tinggi. Setelah mata Muslim berkeliling melihat, kondisinya aman. Maaf, (Agar ceritanya agak singkat, anggap saja Muslim sudah di atas pohon kelapa). Dengan menuruti telunjuk gue, Muslim mejatuhkan beberapa buah kelapa yang bersuara, “BUUUKKK”.
Itu kalo kelapanya jatuh ke tanah. Tapi, kalo jatuh menimpa kepala orang, suaranya pasti, “ADUH!”.

Melihat malam yang hening, gue yakin nggak ada orang yang tahu, apalagi ustaz, pasti dia nggak tahu. Rumahnya saja jauh dari lokasi kami, sekitar 2 meteran. Setelah Muslim turun, gue mengeluarkan golok. Kelapa itu gue cabik-cabik. Belum sempat gue minum airnya, Muslim sudah nyerobot duluan. Gue nggak marah melihatnya bersemangat mengambil jatah gue. Sebab gue orangnya baik. Cieueuh… baik. Ok. Bukan baik. Terkadang baik.
Saat gue berdiri hendak mengambil kelapa yang tergeletak di atas tanah. Tiba-tiba…wakwaaaw…

“Sedang apa Sam?”, Teh Nenden istrinya ustaz bangun dan melihat gue berdiri kokoh dengan golok di tangan bercucuran air kelapa.

“Oh, Teteh, bikin kaget aja. Anu Teh, Ngeronda, biasa keliling menjaga keamanan pesantren…” Gue menjawab sekenanya. Tubuh gue panas-dingin.

“Oh, ngeronda. Jaga keamanan ya?”
“emmm… ho..oh, Teh”

“Dari Maling kelapa?” Teh Nenden mulai curiga.

“Hehe….iya, dari maling kelapa… “ Gue berkata sambil menunjuk Muslim.

“Itu, temanmu lagi makan apa?”

“Teman?!...makan?” gue kura-kura dalam perahu. Pura-pura gak tahu.
Mendengar ucapan Teh Nenden, gue langsung melirik Muslim. Dan gue lihat ternyata Muslim sedang menggenggam kelapa yang telah dibelah. Mulutnya penuh dengan agar-agar putih kelapa, dan ada beberapa lembar lapis kelapa yang belum ditelannya, terlihat melambai-lambai. Berayun ke mari ke sana terembusi angin malam. Kemudian… srupuuuut… disedot masuk tenggorokannya.

“Masya Allah! Muslim. Loe makan kelapa?!!”

“Muslim teh! Tuh, liat! Lagi makan kelapa dia..” gue nuduh Muslim.

“Mau hukuman apa Teh untuk Muslim?” gue sok perhatian.

“Udah gak usah mitnah orang lain! Sekarang jawab dengan jujur. What are you doing here?” Teh Nenden marah dan kedua alisnya hampir bertemu.
“Anu Teh,…. Cabuuut, Slim”

“Apa?...cabut!” Muslim malah nyabut golok.
“Bukan cabut golok bego… kabur!”

Catatan kaki:
Kalo mau nyuri, jangan malam hari. Gak aman. Itu kesatu. Boleh nyuri asal jangan ketahuan orang. Kalo ketahuan Allah gak apa-apa. Paling-paling masuk neraka. Ngeri ya bicara neraka? Diulang lagi aja. Kalo nyuri ketahuan Allah. Paling-paling gak bakal masuk sorga. Itu juga kalo gak tobat.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...