"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Alasan Saya Meninggalkan Kuliah Bagian 2: Profesionalisme


Meski siang itu mentari bersinar begitu teriknya, namun perkuliahan tetap berjalan seperti biasanya, bahkan cenderung mengasyikan. Dosen yang menyampaikan mata kuliah kurasa sangat profesional dalam mengajarnya. tidak ada kejenuhan, semua materi yang disampaikannya begitu renyah, mudah dilahap, dan dia juga pintar menebar senyuman. Sungguh dosen yang humoris, kupikir.

Namun, akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut dosen, yang didukung dengan teori-teori yang sudah disepakati. meski dosen menyampaikannya dengan gaya humoris, mencoba mempraktekan apa yang disampaikannya, dan mahasiswa menyambutnya dengan baik pula. Namun, seandainya dosen tahu, dipojok ini, disudut kelas ini, ada seseorang yang tersentak, tersinggung, meringkih, sedih, merana, hingga membuatnya putus asa.

Aku ingat betul apa yang diucapkan dosen itu, “Seorang guru mau tidak mau harus mempunyai kedisiplinan tinggi. rapi, sopan dan berbudi… bla… bla… dan kalian juga harus pintar dalam berbicara, lancar, tidak cedal dan gagap”.

Kalimat yang terakhir diucapkan dosen sungguh sangat membuatku tidak nyaman, jantungku mulai berdegup kencang, sebab kalimat terakhir yang diucapkan dosen itu, sesuatu yang terjadi pada diriku. “meski aku mahasiswa yang tidak disiplin, jarang kuliah, berpakaian tidak rapi, tapi hal itu mudah dirubah. Lalu, bagaimana dengan kekurangan pada diriku, tidak cakap berbicara, cedal dan gagap” pikiran itu terus membayang sampai perkuliahan selesai.

Berjalan pulang ke kost terasa begitu lemas, semua bayangan kehidupan mulai nampak jelas, apa yang kucita-citakan mulai pudar, bayangan mengajar dengan penuh keceriaan, membagi senyum kepada murid, semuanya buyar, yang ada di kepalaku hanya, membayangkan betapa pedihnya nanti jika aku mengajar murid-murid dan mereka akan menertawakanku karena kecedalan dan kegagapan ini, lebih dari itu, mungkin mereka tidak akan pernah mengerti apa yang aku sampaikan.

Karena kata-kata itu terus membayang dan mulai menakutiku, aku lalu kembali lagi ke kampus, ke perpustakaan untuk melihat teori-teori tentang profesionalisme mengajar. Dan hasilnya, semua buku yang kubaca mendukung ucapan dosen itu, meski ada sebuah buku yang membuatku laga, tapi tidak bisa mengobatiku. penulis buku itu hanya menyempilkan kata, “jangan putus asa jika kita mempunyai kelemahan dalam berbicara, hal itu bisa dilatih dan dibiasakan.”

Dan semua itu, awal aku bertarung dengan diri sendiri, antara meneruskan kuliah, atau berhenti untuk bekerja, atau pindah jurusan. dan pilihan terus berputar dikepala dari waktu kewaktu, sampai tidak terasa dua semester berlalu, dan absen kuliahku hancur, akhirnya keputusan ini terpaksa kuambil. Atau aku tidak pernah memilih keputusan ini, hanya keadaan yang berjalan membawaku pada situasi ini. Menulis, bloging, dan kembali ke pesantren.

Karena menganggap kelemahan diri bawaan lahir ini tidak akan mudah dihilangkan, aku lalu belajar menulis dan blogging pada seniorku di IMM, kang Sukron Abdillah (kompasianer juga). Dan mulai saat itu aku menjalani kehidupan baru sebagai mahasiswa, dengan kehidupan yang baru pula. kampusku tidak lagi di Universitas Negeri Islam Sunan Gunung Djati Bandung, tapi di internet dan di blognya kang sukron. duniaku hijrah dari dunia nyata ke dunia maya, jajanku pun berubah, dari bakso ke buku, dan dosenku pun berubah, dari manusia ke komputer, dan yang sulit kuhadapi, aku merubah cita-citaku, dari seorang guru ke… aku tidak bisa menjelaskan hal ini. Mungkin Ini Bisa, Klik.

Bahkan pandangan tentang mengajar pun ikut berubah, dari guru sebagai profesi menjadi guru adalah pengabdi. dan Alhamdilillah, aku sekarang mengabdi di pesantren dengan mengajar kitab kuning, juga mengajar dilembaga kursus sederhana yang aku buka dengan uang yang seharusnya kugunakan untuk kuliah, PPL, KKN, menyusun skripsi dll. Dan hidupku pun hanya diisi dengan duduk di depan komputer, siang dan malam.

Dan di sinilah aku berada, disurau sederhana tempat manusia menitipkan anak-anak dan kehidupannya.

Dan sampai sekarang, orang tuaku tidak tahu apa yang aku lakukan. yang dia tahu aku sudah mengajar di sekolah. padahal, aku mengajar di pesantren dan di SAG (Sem Al-Furqon Grafik)

Dasam Syamsudin

Berkaitan: Alasan Saya Meninggalkan Kuliah: Perjalanan Yang Belum Berakhir

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...