"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Ada Kompasiana di Pesantren

Tulisan Ini HeadLine Dan Terekomendasi Di Kompasiana

“Pak, bapakkan pinter nulis. Sepertinya bapak harus gabung deh di kompasiana. Di sana banyak penulis, Pak. Ruang diskusi sekaligus tempat untuk mencari lawan debat yang hebat-hebat. Komentarnya juga seru-seru.”
“Kompasiana itu apa, Sam?”

“Kompasiana itu makanan, semacam kerupuk”

“???……”

Itulah ajakan saya kepada salah seorang Ustad Pesantren Al-Furqon Muhammadiyah Cibiuk-Garut, Moh Dahlan. Karena lembutnya buaian saya, Pak Dahlan pun mau gabung di kompaiana. Bahkan dia lebih aktif menulis ketimbang saya.

Tulisan pertama Moh Dahlan langsung disambut hangat para kompasianer. Karena Moh Dahlan tulisannya suka membuka ruang diskusi, akhirnya dia diserbu komentar. Dan saya harus jujur, guru saya itu terpojok, kewalahan, dan akhirnya ngejoprak.

Esoknya Pak Dahlan menceritakan pengalaman pertamanya di kompasiana kepada ustad-ustad lainnya, “Eh, tau tidak. Semalam saya gabung di kompasiana. Lalu mendapat komentar-komentar, mantap” Kata Pak Dahlan menerangkan.

“Grrrrr… ada juga yang bikin saya gemes di kompasiana. Di sana banyak tulisan-tulisan yang memojokan Islam.” Lanjut Pak Dahlan.

Singkat Cerita, Pak Dahlan mengajak beberapa ustadz agar gabung di kompasiana. Dan ajakannya itu direspon baik oleh beberapa ustadz, dan akhirnya mereka membuat akun kompasiana.

***

Kompasiana pertama saya kenalkan ke Pesantren sekitar beberapa bulan yang lalu, saya lupa tepatnya kapan, empat bulan yang lalu kalau tidak salah. Bukan hanya ustadz, beberapa santri pun ada yang memiliki akun kompasiana.

Media Dakwah

Tujuan saya mengenalkan kompasiana ke pesantren tiada lain, disamping sebagai sarana dakwah, juga sebagai ruang diskusi, belajar dan berbagi.

Pembahasan tentang internet sebagai media dakwah, saya kira bukan hanya kompasiana. Tapi seluruh website yang berisi konten-konten yang bermanfaat. Dakwah secara lisan, orasi, kekuatannya disekat oleh ruang, hanya terbatas pada ruang tertentu dan diwaktu tertentu. Tapi, jika tulisan kita masukan ke dalam website, kompasiana umpamanya. Maka, tulisan itu akan awet, bisa dimanfaatkan kapan saja. Artinya, pesan-pesan dakwah yang disampaikannya tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Sharing dan Filter Wraiting

Meski ustad di sini sudah tidak asing lagi dengan internet, bahkan beberapa ustad, termasuk saya mempunyai web pribadi. Namun rasanya kurang afdhol kalau tulisan belum dialirkan ke kompasiana dulu. Sebab di sini tidak menutup kemungkinan akan mendapat komentar, baik koreksi terhadap esensi isi, makna, bahkan cara penulisan itu sendiri. Dan hal ini sangat menguntungkan . setelah tulisan sudah mendapatkan usapan dari beberapa kompasianer yang ahli, kita tinggal menggembolnya ke web pribadi.

Belajar Dan Berbagi

Hal inilah yang paling saya sukai dari kompasiana. Di sini kita bisa belajar dan berbagi. Saat kita memposting tulisan, dan ternyata tulisan itu disantap renyah oleh pembaca, menghisap seluruh informasi atau wawasan yang dikandungnya, berarti si pembaca sedang belajar, dan penulis berbagi. Atau sebaliknya, jika si pembaca memiliki pendapat lain, argument lain yang lebih mantap dan berguna, berarti keadaan ini berbalik, Pembaca yang berbagi, penulis yang mendapat pelajaran baru. Sungguh sangat bermanfaat.

Penulis-Bersahabat

Kompasiana juga menyediakan wadah persahabatan yang tidak kalah seperti halnya facebook. Meski di kompasiana keadaan terkadang mengerikan dengan perdebatan para komentator yang saling hunus-menghunuskan pedang pengetahuan. Namun, hal itu tidak harus menjadi musuh beneran. Saya memang jarang berdebat sama orang lain. Memang beberapa kali pernah, tapi hal itu tidak menjadikan saya harus menutup kunci silaturahmi. Saya malah suka menjadi teman orang yang berdebat dengan saya. Misalnya, sama Bagus Kelana, dia pernah tersinggung oleh kata-kata saya. Lalu karena takut tersinggung itu saya langsung menjadikannya teman, dan dia pun mengkofirm. Ternyata setelah dikenal lebih dekat, dia mempunyai banyak kesamaan, baik dari budaya, bahasa, dll (yang saya maksud di sini budaya sunda dan bahasa sunda), dan hal itu sangat menyenangkan.

Menularkan Dan Menyalurkan Bakat Menulis

Manfaat lain dari Kompasiana untuk pesantren, baik untuk santri atau pengajarnya adalah pengenalan dunia tulis-menulis. Dengan adanya kompasiana para santri bisa belajar kaifiyat menulis, sekaligus bisa menyalurkannya. Sebab, kompasiana berbeda dengan media cetak, hanya tulisan yang benar-benar berkualitas yang bisa masuk. Tapi di kompasiana tulisan apapun selama tidak melanggar aturan penulisan di Kompasiana, bisa dimasukan. Jadi, sangat bermanfaat sekali untuk kalangan santri sebagai media belajar menulis dan sekaligus menyalurkan tulisan.

Mungkin hanya ini yang bisa saya tuliskan.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...