"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Setiap Hari Bareng Kompasiana, Saya Dapat Ini


Mungkin orang lain ada yang menghabiskan waktu bareng kompasiana lebih dari saya, dari pagi, siang, sore, malam, sampai pagi lagi, mungkin itu Admin.



Saya juga tidak tahu pasti berapa jam setiap hari menghabiskan waktu di kompasiana. Sebab di Pesantren selain ngajarin kitab kuning, saya juga kebagian ngajarin desain web, sama desain grafis lainnya. Dan hampir setiap hari komputer menyala sepanjang hari, dan selama itu pula kompasiana tidak pernah dibunuh. walau tidak selalu nongkrongin kompasiana kayak kitab kuning, tapi kompasiana memang sudah banyak manfaatnya. setidaknya itu lebih bermanfaat pada pengembangan keilmuan ketimbang Facebook.

Apalagi kerjaan yang bisa dilakukan di Kompasiana kecuali membaca dan menulis. baca ini, baca itu, loncat dari satu judul kejudul yang lain, kalau ada tulisan yang bisa buat bahagia, merasa mendapat banyak manfaat, inspirasi dll, kita bisa mengomentarinya. Dan ini yang paling pokok, kalau kepala sudah terisi penuh dengan materi dari apa yang kita baca, tinggal meledakan ide itu ke dalam tulisan. Lalu kembaliin lagi ke kompasiana. Setiap hari, seperti itu.

Pemicu

Pada mulanya saya hanya menuliskan apa yang ada di kepala. Saya tidak pernah berpikir keaktualan dan isu-isu yang berkembang saat ini, kekikinian, keaktualan, gak pernah memikirkan hal seperti itu. Biasanya saya menuliskan hal-hal keagamaan yang bersifat teoritis atau ibadah praktis, atau catatan-catatan nyeleneh dan aneh.

Nah, Karena seringnya melotoin kompasiana, akhirnya saya terpancing juga. Ternyata di kompasiana bertebaran berbagai tulisan yang berbeda-beda, dari berita sampai prosa, dari puisi sampai opini, dari cerita sampai media, banyak sekali jenis tulisan-tulisannya, tinggal memilih. Dari keberagaman itu lah, akhirnya saya berkelana kesana-kemari, baca ini, baca itu, lihat ini, lihat itu. Bahkan hampir setiap hari saya jalan-jalan ke kompas.com, vivanews.com, detik.com, pikiranrakyatonline.com, dsb. belum lagi blog-blog yang lainnya.

Kompasiana Sungguh memicu saya untuk memperdalam pengetahuan dan mempertajam tulisan. Kalau gak ada wadah seperti kompasiana, mungkin tidak terbersit dipikiran saya untuk mencoba menyesuaikan tulisan. Setiap orang mungkin punya prinsip dalam menulis. Kalau saya lain, intinya saya menggunduk-gunduk dulu pengetahuan, pengalaman, melihat dunia melalui wujud “maya” yang seksi, biar saat kembali wajah saya pun semakin berubah, beragam, dan beraneka.

Kompasiana benar-benar memicu saya. Kalau saja gak pernah ada niat nulis di kompasiana, sepertinya sampai sekarang mungkin pengetahuan saya sulit berkembang. Kalau sekarang beda, apakah saya sudah pintar? tentu bukan itu maksud saya. Maksudnya saya bisa menjelajahi alam maya dengan tujuan tertentu. Kalau waktu kuliah mah masih suka Copas (copy-paste), atau hanya sebatas lihat yang aneh-aneh diinternet, itu pun hanya lihat. Kalau sekarang ada tujuan, berkelana ke tiap rumah yang ada di masyarakat maya, tujuannya minta bekel, mengemis pengetahuan, mengasah kemampuan, daya tangkap, daya baca, mengintip isu-isu aktual, menguping peristiwa-peristiwa kenegaraan, dari regional sampai internasional, bahkan sampai mengaduk-aduk formula kehidupan dari tips and triks, sampai cara licik.

Hal itu sebelumnya belum pernah saya lakukan, atau jarang sekali. Sebab tak ada pemicu yang harus, atau menyeret saya melakukan hal itu. Dengan adanya kompasiana, saya jadi ingin pintar, pandai menulis dan hangat bersahabat. Kompasiana sudah menjadi sekolah buat saya, sekolah yang setiap hari memberi tugas agar membuat tulisan-tulisan yang bermanfaat, akurat, dan diminati masyarakat, bukan sekedar merangkai kata.

Setiap orang mempunyai selera dalam memilih tulisan, begitupula cara menuliskannya. Hal itu bukan jadi masalah buat saya, mau orang lain suka atau tidak pada tulisan saya. Intinya saya menggunduk-gunduk pengetahuan dulu dari berbagai situs, atau buku, sebagai media untuk mengasah dan mengisi otak saya.

Seperti yang saya sebutkan di atas. Kompasiana sangat memicu untuk berkarya. Persahabatan-kepenulisan di sini sangat ketat dan bersaing. Lihat tulisan terbaru saja terus melorot dengan cepat di Home kompasiana. Hih, sangat ngeri. Hal itu bagi saya tantangan dan godaan. Tantangan agar saya menulis lebih baik lagi, dan godaan agar saya memperbanyak ilmu dan pengetahuan lebih banyak dan beragam lagi.

Kitab Kuning Dan Kitab Biru (Meminjam Istilah dari salah satu komentar di “Ada Kompasiana di Pesantren”

Saya di Pesantren sudah di beri kantor sendiri, lengkap dengan 2 komputer canggih dan jaringan internet (untuk pribadi), kecuali kasur. Saya tidur di karpet. Karpet yang juga berfungsi sebagai alas untuk mengaji. Hidup saya memang kuno tapi canggih, kampungan tapi modern. bahasa saja setiap 4 hari dalam seminggu menggunakan bahasa Inggris dan Arab, padahal santri agak dipandang masyarakat secondclass, apalagi sekarang, zaman telunjuknya sedang mengarah ke muka santri, selalu menyimpan kecurigaan pada santri.

Oh, saya melenceng dari pembahasan.

Jika santri akan mengaji, mereka akan mendatangi tempat saya. Biasanya suka ikut nimbrung liatin saya ngompasiana sebelum pengajian dimulai. Saat itulah saya kembali membuka kitab kuning, dan komputer di samping terus menyala menampilkan halaman Kompasiana, Google, dan Google Terjemah.

Di sini lah saya mulai mengkolaborasikan pengalaman saya berselancar di dunia maya, khususnya hasil kelayaban di kompasiana, dengan materi kitab kuning yang saya ajarkan. Sehingga para santri pengetahuannya tidak terfokus pada satu pemahaman saja tentang Keisalaman. Karena saya tahu, buku atau kitab, seberharganya pun, tetap saja hasil pemikiran orang lain. Jadi, tidak bisa mengandalkan satu buku atau kitab dalam upaya pencarian pengetahuan. kalau hanya satu kitab yang dijadikan referensi, takut-takut hal itu akan mengkontruksi pemikiran santri, lalu membentuknya sebagai karakter. Intinya, takut menjadikan satu pemahaman sebagai selimut.

Dengan media online yang sudah selalu saya buka setiap mengaji, saya bisa mengikut sertakan isu-isu keagamaan yang sedang berkembang. Contoh seperti sekarang, isu terorisme. Dengan cepat dan sangat hati-hati saya kabarkan keseluruh santri, memberinya pemahaman dari berbagai sumber. Termasuk dari internet, khususnya Kompasiana, sebab di sinilah kritik, hujatan, saran, panduan, pemahaman, itu bisa di dapat dengan mudah. Dan ini tentu sangat bermanfaat, saya atau santri bisa mengetahui keadaan zaman sekarang. Tembok-tembok asrama tidak lagi menjadi sekat yang memisahkan kami dengan dunia yang ada diluar kami.

Peluang ini betul-betul saya manfaatkan, baik untuk diri atau pun santri. Apalagi internet saya gak punya banyak fungsi, situs ilegalnya diblokir sama speedy, sebab saya yang minta, padahal saya sendiri yang mendaftarkan speedy untuk pesantren. Semoga kompasiana untuk ke depannya lebih baik, sukses dan lebih bermanfaat sekali.

Saya berterimakasih pada kompasiana, karena tanpa sadar saya terpacu untuk maju, khususnya dalam bidang pengetahuan dan kepenulisan.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...