"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Selesaika Kasus Bom Bunuh Diri Dengan Bijak

Mengutip dari KOMPAS.com


“Kepolisian RI menyatakan telah menangkap 19 orang tersangka yang diduga terlibat dalam aksi teror bom di Jakarta, bom bunuh diri di Cirebon dan teror bom di Gading Serpong, Tangerang, Banten…”

Meski saya tidak mengenal siapa itu densus88, wajah-wajah di balik topeng seram. Tapi saya bersyukur kalau informasi tersebut benar adanya, mudah-mudahan untuk ke depannya bisa menangkap lebih banyak lagi terorisnya, dan bisa membongkar siapakah dalang di balik semua peristiwa yang menghinakan harkat bangsa ini, terlebih lagi sampai nyerempet menghinakan Islam, sampai Islam sekarang sedang dirundung sedih (sebenarnya Islam gak pernah sedih, umatnya yang dimaksud).



Aksi terorimse di Indonesia yang kian hari kian menyebar dan mengakar ini sungguh sangat memilukan bangsa, bahkan di satu sisi menjadi fitnah besar untuk bangsa ini. Sebab, dengan mengakar dan menyebarnya aksi terorisme, itu bisa menunjukan beberapa perkara.

Pertama, Indonesia ternyata negara yang masih kurang bisa menjaga keamanan dan kenyaman rakyatnya. Cakar dan paruh pancasila masih tumpul dalam melawan kejahatan di Indonesia yang semakin media massa berkoar meneriakan kejahatan, kasus kejahatan malah semakin banyak, bahkan sempai mencapai level yang sangat menakutkan bagi kedaulatan rakyat Indonesia. Terorisme, ternyata telah menjadi bayangan yang lebih ditakutkan masyarakat ketimbang bencana-bencana lain.

Kedua, Membudalnya para teroris yang tadinya bersembunyi rapat-rapat, juga bisa menunjukan ketidak seriusan pemerintah dalam menangani kasus ini. Kalau Iya, pemerintah mampu, cekatan dan sigap, sudah barang tentu aksi terorisme harusnya semakin reda pasca Bom Bali yang didalangi IS dan Cs. fakta lain yang saya jadikan bukti menguatkan argumen saya yang kedua ini adalah; kelakuan sebagian pejabat pemerintah yang sepertinya sangat menampakan wajah ketidak peduliaan pada bangsa ini, disamping ulah korupsinya, juga moralnya, tentunya harus saya seret pada kompetisi politik yang semakin tidak jelas juntrung kepancasilaannya. Bisa saja terorisme itu lahir dari kegemesan karena terdepak dalam pertarungan politik, akhirnya sang politik ngamuk, dan terorismelah pelampiasannya. atau, bisa juga sang teroris gemes sama kelakuan pejabat pemerintah yang semakin menjabat, rakyat malah semakit terjerat,. Bukankah aksi bom bunuh diri itu banyak dilakukan oleh masyarakat biasa.

Ketiga, kurangnya kontrol masyarakat antar beragama dan lemahnya nilai-nilai pancasila. Inikan yang sering dituduhkan dan dijadikan alasan melakukan aksi pemboman? mungkin yang jadi permasalahan bukan orang yang beragamanya, tapi orang yang tidak beragamanya (”"yang suka maksiatnya, kalau yang baik gak masuk kategori ini), atau orang yang beragama tapi seperti tidak beragama”". maksudnya, bisaj jadi sang teroris kesel dan gerah melihat kelakuan sebagian rakyat indonesia yang terlalu bebas hidup di atas rel kebebsan sebagai manusia karena ada payung HAM. sehingga sebagian rakyat Indonesia hidup seenaknya saja tanpa memikirkan norma-norma kepancasilaan dalam beretika, terlebih norma keagamaan. Hal ini seperti yang dilakukan Imam Samudera & Cs. Yang gerah melihat kemasitan, katanya. Maaf, saya tidak akan membahas siapa yang salah di sini.

Mungkin ini ide gila dari saya, untuk hal seperti ini, saya kira tidak ada salahnya kalau pemerintah menguatkan aturan norma kemasyarakatan (moral hidup) dengan memberikan ketegasan berupa sangsi. contoh salah satu pelanggaran norma keagamaan dan norma sosial masyarakat indonesia; seks bebas. itu saya yakin bukan budaya Indonesia asli (cinta bukan alasan orang melanggar norma kehidupan), lagipula seks bebas ada kaitan menyakitkan dan memalukan orang lain (menghinakan), siapa mereka? orang tua dan sanak saudara. banyak contoh kehidupan yang terlalu bebas tapi seolah bukan pelanggaran norma.

Keempat, payung hukum di Indonesia belum bisa menaungi seluruh rakyat sampai merasa teduh dan terlindungi. kalau iya, kenapa orang maling ayam bisa babak belur, sedengkan orang mencuri harta negara, lengkap dengan harga diri bangsa aman-aman saja meski dijibuni polisi. rakyak Indonesia kan semakin krtisi, punya hati. Jadi tidak menutup kemungkinan hal itu menumbuhkan rasa ketidak adilan, akhirnya pemberontakanlah yang terjadi hingga akhirnya melahirkan aksi terorisme. di samping itu, benarkan payung hukum Indonesia sudah dirasakan keteduhannya oleh masyarakat beragama? kalau sudah, kenapa selalu saja harus ada masyarakat penganut agama yang berteriak meronta-ronta memohon agar kembali mengoreksi semua UUD. dimanakah letak hukum yang mampu menenangkan rakyat Indonesia yang majemuk ini? bukankah ketidak puasan bisa mengakibatkan seseorang berontak.

Jadi, ternyata untuk membersihkan bangsa ini dari aksi terorisme harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah. Pemerintah dan rakyat sepertinya harus kembali “menghapal” Pancasila, bukan mengingatnya semata (etika dan moral ber-Indonesia). Selain itu, kesiapan, kesigapan, dan ketegasan dalam menegakan hukum di Indonesia tentunya harus lebih bijaksana lagi, samakanlah antara yang berdasi dan yang tidak berdasi, dan samakanlah panggung perpolitikan seperti kita memilih Ketua Kelas waktu kita SD (tidak ada dendam apalagi harus menyuap Guru dan kepala sekolah, apalagi menyuap satpam, terlebih sampai meledakan petasan, dikelas lain pula, sangat tidak nyambung).

Mungkin hanya itu yang bisa saya…. kurang lebihnya saya mohon maaf. Koreksi selalu saya tunggu dengan senyuman. Karena saya paling jarang menulis yang seperti. Tapi sepertinya hati ini tidak diam menyaksikan kejadian bangsa ini baru-baru ini.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...