"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Catatan Garing 12: Juragan Jengkol

Bagian Dua Belas

Kelas kami tadinya aman, damai, nyaman dan tidak ada pertumpahan darah. Namun, sekarang, beberapa menit lagi akan ada eksekusi besar-besaran di pesantren ini. Segenap santri dari penjuru pesantren berdatangan hanya untuk menyaksikan eksekusi itu. Kelas-kelas dikosongkan. Para ustadz menyuruh santrinya keluar. Santriawan dan santriawati pun berteriak girang. Karena pesantren libur mendadak. Bagi santri libur adalah anugerah. Sedangkan bagi orang tuanya, itu menyia-nyiakan waktu.

Para santri dan para ustadz berkumpul di aula. Kami menunggu sang eksekutor. Tiada lain pak Kiai. Ia yang akan mengeksekusi sang pidana ini. Dari raut muka santri kaga ada yang kasihan pada sang pidana. Ustadz juga sama, gak kasihan sepertinya. Gue sebaliknya. Hehe.. baru kali ini kasihan ama orang.

Melihat kondisi sang terpidana. Gue kasihan juga. pasalnya ia manusia. Padahal kesalahannya tidak begitu besar. Tapi, emang kalo diingat ulahnya pada santri dan ustadz…Grrrrr… bikin tangan geli. Maunya ngegaruk matanya. Saking kesalahannya sudah melampui batas.

Menurut keterangan saksi dari tiap kelas. Dan, dari jumlah 6 kelas itu. Di ambil 5 orang saksi yang paling jujur. Di antaranya tidak ada gue. karena, loe tahu, sejak semula gue kurang jujur pada loe-loe. Ingat! Kurang jujur, bukan tidak. Namun, dari sekian saksi, tidak ada yang bisa menjelaskan secara detil. Kecuali gue. pasalnya gue yang nulis.

Mendengar semua ocehan saksi. Gue bisa menyimpulkan, bahwa sang terdakwa melakukan kesalahan sangat besar. Yaitu, makan jengkol. Iya, makan jengkol. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya makan jengkol titik (.).

Waktu itu, setelah bubar shalat maghrib. Sang pidana…aduh…. sebutin jangan ya namanya. Sebutin aja, ah, namanya AR. Iyah, betul, nama palsunya AR. Sebelum mengaji dan sesudah shalat maghrib. AR pergi kekamarnya dulu, untuk mengambil beberapa gram jengkol mentah, diukur dari beratnya. Nah, kalo tidak salah ia membawa 3 butir jengkol. Dua jengkol di selapin di saku baju kokonya. Satu lagi ia genggam dengan tangannya.

Sambil berjalan menuju kelas. Tangan kirinya megang kitab Jurumiah tipis, sedangkan tangan kanannya megang jengkol. Jalan sambil bersiul, sesekali ia kembali menggigit jengkolnya. Kelas pesantren kami berjajar. Kelas AR yang paling ujung. Saat mendekati kelas pertama, AR terdiam dulu. Mulutnya mengunyah mentah-mentah jengkol. Setelah selesai di telan. Ia melihat telapak tangannya. Sepertinya mau ngetes dulu, apakah jengkolnya bau atau tidak. “Hah…” yeakh! setelah napas menghembus telapak tangannya, lalu ia cium. Setelah tangannya dicium ia agak sempoyongan,. Dahsyat. Bau jengkolnya dahsyat. Baru setelah itu, ia menongolkan kepalanya kedalam kelas pertama. Dan, Hah!...

Sekarang ia jalan bersiul lagi, tentunya sambil makan jengkol. Tepat di depan pintu kelas kedua, ia menghembuskan nafasnya lagi. Hah! tidak ada reaksi dari dalam kelas. Seperti itulah seterusnya. Hah…Hah…Hah. Kata AR, semua kelas kebagian porsi yang sama.

Selang beberepa menit. Anggap aja semua santri udah pada masuk kelas. Namun, belum ada reaksi apa-apa dari segenap kelas-kelas itu. Saat gue sedang mengaji al-Fiyah Ibnu Malik. Di kelas pertama, gue mendengar santri kelas wahid sudah mulai membaca kitab Jurumiyah. Gurunya ustadz Gunawan.

“… Al-kalamu…, kalam itu. Huwa…, adalah. Al-Lafdzu. Lafadz…”

Kelas satu membaca Matan Jurumiyah sangat keras dan bersemangat. Yups, saat mereka sedang berteriak-teriak riang membaca Matan Jurumiyah. Tiba-tiba mereka diam. Semua diam membisu. Dan, mereka kembali ribut. Bukan membaca Jurumiyah. Tapi mereka ribut saling bertanya satu sama lain. Bertanya tentang bau apa ini? Pertanyaan mereka berubah menjadi umpatan dan fitnah. Mereka saling memfitnah, saling nuduh. Satu menit berikutnya, sudah banyak yang berjatuhan korban. Santriawati banyak yang nangis difintah santriawan. Bahkan, ada beberapa santri di gotong keluar. Sebab pingsan. Tidak tahan dengan bau jengkol.

Keributan bukan hanya dikelas satu. Kelas dua juga sama. Mereka merasakan bau yang sama. Para santriawati menutup hidung dengan kerudungnya. Santriawan menutup hidung dengan: kopiah haji, kertas, baju koko, dan ada yang pake sarungnya sampai lupa isi sarungnya nongol. dan ada juga yang tidak menutup hidungnya. Mungkin menikmatinya.

Keributan terus merembet ke kelas berikutnya. Akhirnya semua kelas merasakan bau jengkol yang dahsyat itu. Semua santri kacau. Semua jendela kaca dibuka. Ustadz pada melarikan diri dari kelas. Santri banyak yang mengibas-ngibaskan bau itu dengan apa saja. Mungkin ada juga yang mengibas-ngibaskan dengan sarungnya. Itu gue.

Pengurus sibuk menenangkan keadaan. Ada juga pengurus yang pingsan. Pengurus bagian kesehatan sibuk membawa santri yang berjatuahan terkulai tak berdaya. Bukan tak bernyawa. Dalam tempo waktu durasi tiga menit saja telah banyak membuat santriawan-santriawati g tumbang berjatuhan. Semua akibat the jengkol. Kelas 6, santriawannya saling menuduh. Mereka mengeluarkan argument besar-besaran. Saling lontar-melontarkan dalil-dalil. Akhirnya perdebatan keras tak tertahankan. Banyak yang tersinggung. Tidak terima dituduh makan jengkol, lalu pukul-memukul pun terjadi. Pertumpahan darah akibat jengkol pun terjadi. Gue sebagai sesepuh kelas enam berusaha menjadi penengah. Maksudnya menjadi wasit. Agar pergulatan itu rapi dan teratur. Bukan menghentikan gulat.

Keributan belum juga usai, sebab bau jengkol semakin lama semakin menjadi-jadi. Menurut sie Kesehatan, data korban juragan jengkol. Begitu mereka menyebutnya. Sudah ada sekitar belasan orang. Grrrrr… di saat semua santri ribut di luar kelas. Di dalam kelas ada seorang santri yang cekikikan sendirian. Ia tertawa terbahak-bahak. Semakin lama tawanya semakin menggelegar. Aneh! Hal ini aneh. Disaat semua merasakan bau dan penderitaan, ia malah tertawa puas. Dengan begitu ia mengundang kepenasaran banyak santri. Santri-santri berlarian ke arah datangnya sumber suara. Ternyata itu AR. Semua mata santri menatap tajam AR. AR masih tertawa, matanya terpejam. Tangannya memukul-mukul meja. Mungkin baginya sangat lucu. Lalu, santri-santri mengerubunginya dan terlihat di tangan AR ada sebongkah jengkol yang tinggal sepotong. Sisa digigitnya.

Grrrrr… Ternyata ia penyebab semua keributan. Tidak bisa di sangkal, ia yang menyebarkan virus jengkol. Akhirnya semua santri kesal melihatnya. Dan, ia pun diseret ke dalam aula hendak dieksekusi. Walau tubuhnya di seret keamanan, ia masih tertawa. Santri banyak yang membencinya. Ih… dasar! juragan jengkol.
***

Setelah lama menunggu, akhirnya Kiai datang juga. Aden yang tadinya tertawa cekikian. Eh, bukan Aden, namanya AR. Aduh…. Lupa gue. ia sekarang tubuhnya bergetar, kepalanya tertunduk pasrah. Matanya terpejam, mulutnya komat-kamit. Bukan berdo’a, tapi, menghabiskan sisa-sisa jengkol yang masih nempel di giginya….ih!

“Kiai, saya nerima dihukum apa saja. Ane ngaku telah berbuat dzalim” kata Aden, memohon.

“……..???” Kiai hanya diam. Ia berjalan memutari Aden. Menatapnya tajam, sambil tangannya menutup hidung.

“Oh…. ini penjahatnya. Jelek! Jelek juga kelakuannya..” kata Kiai

Gue berharap ia juga mengatakan wajahnya yang jelek.
“Oke, hukuman yang pantas untuk dia. Yang mendidik aja. kita suruh meng-I’rab al-Quran 30 zuz” kata Kiai.

“Apa??!!!! What you say Kiai?” gue kaget, kok hukumannya ringan.

“Terima kasih Kiai… ane..??”

Aden merasa di bela Kiai. Ia berterima kasih. Namun, jarak antara wajah Kiai dan Aden sangat dekat. Hampir beradu mulut. Kiai lebih pendek. So, hidung kiai beradu sangat dekat dengan mulut Aden yang masih menganga. Maka, masuklah seluruh nafas Aden ke hidung Kiai. yups. Grrrrr….

“HUKUM!!! HUKUM DIA SEBERATNYA. ANE SERAHKAN AMA PENGURUS!”

Kiai marah besar. Ia berteriak sangat keras. Cirinya hurupnya kapital semua.

“Horreeeee…. “ semua santri tepuk tangan.

Kiai meninggalkan ruangan dengan kecewa dan mau muntah-muntah. Sedangkan pengurus berkumpul memutuskan hukuman yang pantas buat Aden. Suara pun mulai berjatuhan

“Suruh membersihakn seluruh pesantren aja” sie kebersihan.

“Membetulkan genteng bocor!” sie logistik.

“Gantung aja!!” gue yang usul.

“Menerjemahkan Jam’ul Jawami’ aja” sie lughoh.

“Denda aja, 1 juta rupiah” pasti masalah uang bendahara. Yups, betul bendahara.

“Suruh pidato aja semalaman” sie tabligh.

“Dipaksa berak aja semalaman” gue usul lagi.

“Ranjam aja” sie keamanan. zinah kali di ranjam.

“Suruh menghapal al-Fiyah aja seribu bait” sie Pendidikan.

“Jangan di beri sertifikat” Sekretaris. Udah pasti masalah ginian mah.

“Telanjangi, lalu arak keliling kampung” loe tahu siapa yang usul? Gue

“Suruh janji aja! Aden gak akan makan jengkol lagi” Sidik.

“Jangan! Jangan wahai lurah santri. Jangan di larang makan jengkol. Dari pada saya berhenti makan jengkol lebih baik saya ranjam aja” Aden memohon.

Tahu apa hukumannya? Dia di suruh tahajud selama satu bulan. Tidurnya di dalam masjid. Mungkin dengan begitu ia akan bertobat. Dan, dia diboikot makan jengkol selama 3 bulan. Makan tuh jengkol! Dasar!

Catatan kaki:
Jangan makan jengkol kalo belajar. Jangan menggunakan kekerasan di dalam pendidikan. Jangan terlalu percaya gue, walaupun ini benar adanya. Tidak separah itu. Biar gue saja yang tahu cerita sesungguhnya.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...