"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Catatan Garing 10: Kentut Santriawati

Bagian Sepuluh

“Nah, santriawan, santriawati yang budiman. Sebagai santri kita harus tahu sopan santun. Bagaimana sikap kita pada orang dewasa. Yang dewasa juga sama, harus sayang pada yang lebih kecil. Saat orang lain tidur pun kita tidak boleh mengganggunya. Untuk baca Quran pun Nabi melarang. Katanya ganggu.”

Itulah ceramah ustadz yang singkat tapi gak jelas di dalam Masjid, saat ada acara Mubalighin Umum. Ustadz dari tadi terus bicara tentang cara bersikap sopan. Padahal, menurut gue, ustadz sendiri tidak begitu sopan. Pasalnya, gue ngantuk banget. Sedangkan ustadz teruuuuss aja ceramah kesana-kemari gak ada ujungnya. Nah, bagaimana gue bisa tidur coba? Kalo ustadz teruuusss aja ngoceh. Pake microfhon pula? Gak sopan kan sikap seperti itu?! Apalagi dia Ustadz, sedangkan gue santri. Seharusnya dia lebih paham. Kalo ada santri yang ngantuk waktu acara ceramah. Pidatonya harus pelan. Baguslah kalo sampai berbisik-bisik doank. Lah ini! Suaranya meledak-meledak….uggghhh.

“Paham anak-anak?” kata ustadz.

“Paham…” santri menjawab.

“Ayo, siapa yang mau bertanya?”

“saya, pak ustadz!” gue berkata sambil ngacung

“Silahkan!”

“Saya, selama ini selalu patuh ama ustadz. Tapi, hari ini saya kecewa ama ustadz. Kata ustadz kita harus sopan. Tidak boleh ganggu yang tidur. Ustadz tahu tidak? ceramah ustadz itu mengganggu saya. saya gak bisa tidur!”

“Betul! ya, itu betul sekali” dukungan dari santri yang sama-sama ngantuk.

“Ayo teman-teman dukung lagi!” Gue memprovokasi massa.

“Betul..betul..betul!..bet…”

“Diiiiiaaaaammmm!!!! Grrrrrrr…..!”

“Diam semuanya! Syamsudin, kemari kamu!”

Ustadz sepertinya tidak terima di katain tidak sopan. Dia marah sekali, bahkan sampai geram….Grrrrrrhhh….

“Walah…. Bagaimana nasib gue, sepertianya bakal mendapat hukuman berat ni”

“Ayo maju…” Saeful mendorong gue kehadapan Ustadz.

Dengan langkah pelan, dan bergetar-getar. Gue maju sedikit demi sedikit. Sesaat gue melihat muka ustadz tadi…ihhh…serrreemmm banget. Matanya memerah, kedua halisnya bertemu. Kumisnya membentuk hurup “U” terbalik. Lidahnya menjulur-julur keluar..ihhh, serrem deh pokoknya. Tangannya mengepal kuat. Saat ini gue hanya bisa pasrah. Gue yakin akan menjadi tontonan dari semua santriawan dan santriawati. Gue bakal dihukum. Hukuman yang akan jadi aib seumur hidup.

Langkah semakin dekat. Sebelum gue menyerahkan diri. Gue memandang dulu santriawati idaman gue, Irma. Ia pacar orang lain, Tapi gue cinta. Tap! Langkah kaki gue berhenti di hadapan ustadz yang sedang berdiri kokoh dengan matanya yang melotot tajam. Gue pasrah betul-betul. Mata gue pejamkan sepejam-pejamnya. Tidak sanggup memandang wajah ustadz.

“Lihat! santri nakal dan provokator ini. Ini adalah contoh hukuman bagi sang pembangkang” ustadz ceramah lagi.

Mendengar ucapan ustadz, gue bergetar. Semua santri yang satu aliran dengan gue. Banyak yang tidak sanggup menyaksikan pemandangan ini. Mereka semua menangis dan saling berpelukan, tidak tega. Santriawati banyak yang menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya. Mereka juga tidak tega melihat gue di hukum. Kecuali Ii Karlina, ia senang gue dieksekusi.

Gue mencoba minta maaf sama pak ustadz seraya mohon sepenuh hati. Tapi itu percuma, ustadz tidak mau memaafkan secara gratis, harus ada hukaman, katanya. Nah, selagi gue memejamkan mata bersiap mendapat sabetan cambuk. Tiba-tiba ustadz diam terpaku, cambuknya jatuh. Semua santri diam membisu. Semua tegang dan penasaran. Mendengar seorang santriawati kentut nyaring.

“Tuuuu….ttt Brooooott!...brooott….!!!!” kentut santriawati. Tembakan terakhir, suara kentutnya agak halus. “Tuuuuu…ttt….. pssssshhhhh…”
***

Udah diledek ama gue, ada yang kentut pula. Maka, menggeramlah kemarahan ustadz. Lalu bersabda.

“Siapa yang kentut? Jawab!”

“……” Semua santri tidak ada yang jawab.

“Sidik yang kentut, tadz…” kata Herman sambil nunjuk Sidik.

“Bukan….bukan saya…loe kali yang kentut” Sidik kembali melontarkan tuduhan.

Akhirnya, dari perseteruan saling tuduh Herman dan Sidik. Semua santriawan pun saling memfitnah. Mereka saling tuduh menuduh, menunjuk siapa saja sekenanya. Keributan pun terjadi. Tidak sedikit santri junior yang menangis dituduh kentut. Melihat kejadian ini. Gue gak tinggal diam. Gue juga ikut nuduh siapa aja. asyyyikkk… banget loh, bisa nuduh siapa aja.

Ketika santriawan sedang ribut saling nuduh. gue bilang ama ustadz,

“Ustadz…tadz.. saya yakin. Arah kentut berasal dari sana!” gue menunjuk.

“Santriawati?!”

“Iya”

“Betul tadz, dari arah santriawati…” santriawan mendukung.

Dengan begitu, santriawan beralih melontarkan berbagai fitnah terhadap santriawati. Aih! dalam waktu singkat. Jerit tangis santriawati menggema ke udara. Gak nerima di tuduh kentut . Gue asyik aja menyaksikannya.

“Udah! Diam! Jangan saling nuduh lagi. Mungkin itu Jin” ustadz menenangkan.

“Masa Jin tadz?! Ah… jangan-jangan, ustadz yang kentut. Ayo ngaku!” Tsabit

“BUKKKK” Kamus al-Munawir dilempar pak Ustaz mengeni wajah Tsabit. Tumbanglah Tsabit.

“Udah. Sekarang lupakan masalah kentut. Kita kembali kehukuman…." Ustadz kaget, mulutnya terbungkan sendiri.
Hah! Mana Syamsudin??!! Ke mana dia ?!! Semuanya… cari Syamsudin!!!....CEPAT!!!”
Gue kabur meyelamatkan diri sambil kentut ketakutan.

Catatan kaki:
Jangan menuduh seseorang kalo gak ada bukti. Boleh fitnah orang lain selama yang difitnahnya bahagia. Kalo gak bahagia, berarti loe membunuhnya.

2 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...