"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Indahnya Sekola

Oleh DASAM SYAMSUDIN



Jam sembilan pas bel sekolah berdering. Memecahkan suasana belajar sekolah yang hening. Siswa-siswi SD Mekar jaya keluar kelas dari yang seorang sampai yang berdamping. Suasana sekolah jadi rame oleh siswanya yang bermain dan ada yang lari berkeliling. Pak guru keluar kelas dan berjalan ke kantor seakan ada yang penting. Anak-anak menyebar di sudut halaman sekolah seperti ikan terjaring. Saat mentari belum menyingsing. Aku duduk di depan warung sekolah tak berbaring. Menatap kondisi sekolah yang selalu bikin aku pusing. Apalagi Asep yang bergaya seperti orang mau meeting. Laksana Indra Brugman mau shoting. Sepertinya dia mau menemui siswi yang langsing. Sendiri di depan kelas IV seperti orang asing. Yang menunggu pangeran kambing.

Di depan warung mak Arti, aku duduk tersenyum menyaksikan Asep yang mendekati Tiwi. Anak perempuan terlangsing di kelas kami. Asep berjalan mendekati Tiwi yang sedang berjalan sendirian meninggalkan kelas dan bermaksud menemui teman-temannya. Kulihat Asep menyembunyikan sesuatu ditangannya. Itu terlihat karena ia berjalan menyimpan kedua tangannya di belakang punggungnya. Tiwi menoleh kebelakang dan menatap Asep yang dicurigai mengikutinya. Asep kaget dan menatap keatas langit. Siasatnya menghilangkan kecurigaan. Tiwi diam, Asep maju dua langkah dengan kepala masih tengadah seolah menatap langit. Tiwi maju kedepan, Asep menundukan kepalanya seakan mencari semut di tanah. Anak perempuan cantik ini terus menatap Asep. Asep terus tertunduk dan menggoyangkan badannya kekanan dan kekiri. Kadang-kadang badanya goyang kedepan dan kebelakang. Pura-pura gak tahu Asep menyapanya.

“Eh... Tiwi. Emmmm, mau kemana?”

“Kamu, mau ngapain ngikutin aku?” Tiwi balik nanya.

“Enggak... gak ada apa-apa. Cuma... cari, ehm, cari anu semut. Iya semut” Asep berlaga sok sweet. Pake alesan cari semut. Udah jelas cari gadis. Tiwi itu.

“Hmmm... Boulshit. Udah jujur aja. Mau apa?” Tiwi mendesak Asep.

“Ini... Cuma mau ngasih kamu bunga. Nih...!” Asep ngegombal. Pake ngasih bunga segala. Padahal itu bunga plastik yang di pajang di meja guru.

“Apa an nih? Inikan bunga pajangan di kelas. Gak penting” Tiwi sepertinya marah. Merasa dirinya tidak dihargai dengan sekuntum bunga. Tanpa banyak kata ia meninggalkan Asep dan menolak mentah-mentah pemberian Asep yang setulus jiwa raganya. Walau itu bunga kelas yang diambilnya. Tiwi pergi dan langsung masuk tidak jadi menemui temannya. Asep pun pergi menyusul Tiwi kekelas. Barangkali masih penasaran.

Dari dulu Asep memang mencintai Tiwi. Tapi cintanya selalu ditolak. Menurut isu yang beredar. Ia nembak Tiwi sudah satu lusin. Namun, Tiwi sepertinya menolaknya lebih dari satu lusin. Aneh, memang aneh. Kenapa dari sekian banyak wanita yang sekolah gak ada yang mau pada Asep? Tentunya padaku juga? Apakah karena mereka belum baligh atau karena masih kecil. Jika itu alasannya rasional juga, kendati tidak definitif. Barangkali saintifik.

*****

Sekolah kami, SD Mekarjaya Gantar. Memang sakolah paling seru. Setidaknya menurut aku. SD ini, sekolah terbaik di Desa Gantar kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu. Sekarang Gantar telah menjadi kecamatan. Karena sudah ada Sekolah Menengah Atas dan STM. Pasar juga ada, walau masih pasar mingguan. Yang bukanya setiap hari jum’at sore.

Sekolahku adalah tempat yang terindah bagiku. Dan termurah menurut emak dan bapakku. Terjelek menurut Goni yang sekolah di Jakarta. Terbaik menurut Sakin yang selalu ditolak SD manapun karena tubuhnya kurang perfect (maaf). Terbesar menurut orang Gantar, karena ini sekolah SD Negeri satu-satunya. Kalau harus menyebutkan ter... anu...anu... tidak akan selesai. Apalagi pandangan orang banyak yang subjektif. Yang pasti aku sekolah disini, karena sekolahnya dekat. Masalah biaya bukan urusan. Biar emak dan bapakku yang ngurus.

Apapun sekolahnya, yang terpenting adalah sekolah. Masalah lembaga atau fisik bangunannya gak penting. Aku sangat bersemangat sekolah. Saking semangatnya, usia sembilan tahun aku daftar ke SD ini langsung diterima. Hebatkan? Udah gitu, sekitar enam bulan kemudian aku pemenang lomba baca buku Bahasa Indonesia tingat kelas. Bayangkan! Tingkat kelas. Asik bukan? Padahal aku masih kelas satu. Tapi, temanku sekelas lainnya kalah. Aku sangat ingat guru memujiku, karena membacaku bagus. Waktu itu tak ada teman sekelas yang mau membaca. Maka itu aku menang. Kerenkan? Lima tahun sudah aku sekolah disini. Tapi jerawat dan hasrat ingin punya pacar tumbuh bersamaan. Usia 13 tahun aku sudah mengenal wanita cantik dan karakteristiknya. Sehingga teman-temanku memberi julukan padaku Sem The Doctor Of Love. Tidak sedikit kaum adam SD Mekar jaya yang sudah berjerawat berkonsultasi padaku tentang wanita dan cara menaklukannya. 75% mereka berhasil mendapatkan pacar. Dan sisanya Asep dan aku belum dapat. Sedihkan?

Bicara asik di sekolah. Bukan bicara asik belajarnya. Jarang guru sekarang yang buat pelajaran asik. Tapi, asik aja banyak temen, bisa bercanda, berantem, saling menghina, mengganggu gadis. Pokoknya banyak. Kalau kami habis kata-kata yang lucu, biasanya saling mencaci dan mencari titik temu kelucuannya. Yang paling banyak tercaci saat itu aku. Aku melulu. Keselkan? Makannya budaya saling mencaci harusnya dihilangkan.

Teman laki-laki kalau gak salah berjumlah 20 orang, dan jumlah temen perempuan 25 orang. Sepertiganya sudah aku ajak jadi pacar, namun gak ada yang mau. Katanya “masih kecil gak boleh pacaran nanti jerawatan kayak kamu. Ha...ha...” malu, kan? Ditertawai gadis kecil dibawah umur karena masalah cinta. Gak baik katanya pacaran waktu kecil. Bener gak sih? Cinta kan gak pandang bulu? Dulu, aku memang agak nakal. Hampir semua teman lelaki sudah kuajak berantem. Tapi aku yang selalu kalah. Aku memang nakal tapi sangat memandang penting pendidikan. Tujuan sekolah kan bukan untuk cari pacar. Dicari pun gak ada yang mau. “Dari pada pusing mikirin pacar, lebih baik mikirin belajar”. Itu suara hatiku menasehati agar rajin belajar. Terlalu sulit mengungkapkan kenangan indahnya sekolah. Terlalu banyak peristiwa belajar dan bermain di sekolah yang seru. Semuanya aku lupa. Jadi, seingatku sekolah itu indah. Udah gitu aja. Singkat kan?

No women no cry. No teacher no cry. No money? Sure I cry. How I can buy the food and drink if no it? But one, no knowledge human will die. Of curse everything will gone.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...