"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Terbang Bersama Malaikat

Cerpen DASAM SYAMSUDIN


Sinar matahari menabraki dedaunan dan bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumah. Sinarnya menembus setiap celah kecil antara dedaunan dan bunga-bunga itu, meloloskan gelombang foton yang memancardari pijarnya. Sosoknya yang bulat raksasa terlihat pecah-pecah, terhalang tetanaman bunga dengan dedaunanya yang bergoyang-goyang ditiup-tiup angin. Di balik jendela kamar aku mengintip Charli—dia adikku—yang sedang menunjuk-nujuk langit. Tubuh adikku yang baru berusia tiga tahun, diam terpaku memperhatikan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa yang sedang dia tunjuk dan dia perhatikan. Tapi, dari balik jendela aku mencoba menebak-nebak, mungkin dia sedang memperhatikan sesuatu yang terbang. Tapi apa yang terbang itu? Itu yang aku pikir. Aku mencoba menebak lagi, mungkin hewan yang kecil. Karena dari balik jendela dan dengan jarak yang agak jauh, hewan kecil itu tidak bisa aku lihat.

Melihat adikku yang bergerak-gerak, berjalan dengan bebas walau masih tertatih-tatih, aku merasa iri. Hampir sebulan aku tidak merasakan bagaimana rasanya berjalan dengan kaki sendiri. Kecelekaan motor yang terjadi sebulan yang lalu membuat kedua kakiku patah. Aku terkadang merasa bingung sendiri. Kenapa aku bisa jatuh dari motor. Padahal waktu itu jalanan terasa aman, dan aku sendiri sudah sangat mahir menyetir motor.

Waktu itu, kala langit senja berwarna merah akibat pancaran sinar matahari yang sedang berjalan keperaduannya, aku sedang memacu motor Ninja RR (baca: Ninja Double R)—pemberian ayahku sebagai hadiah Ulang Tahunku yang kedua puluh tahun—dengan kecepatan normal. Tidak lambat tidak juga cepat, setidaknya menurutku. Saat itu aku memperhatikan langit senja yang betul-betul terlihat merah, merah di mana-mana, pikirku, memperhatikan langit senja yang menurutku terkesan menyeramkan. Langit seolah-olah menyala, berpijar bagaikan bara api raksasa. Mungkin karena memandang langit yang seolah berpijar itu, aku sampai tidak memperhatikan jalan, dan akhirnya motorku tak terkendali sehingga menabrak sebatang pohon yang tumbuh liar di tepi jalan.

Sebetulnya, sebelum aku terjatuh dengan motorku. Di langit yang merah itu, aku melihat sesosok, atau sebuah benda, ah, atau apalah, aku tidak tahu. Yang pasti aku melihat sesuatu melesat di langit, semacam kilat. Tapi itu bukan kilat, sebab sesuatu yang terbang itu besar dan bentuknya seperti seorang manusia yang menyala karena pijar cahaya dari dirinya, dan karena terbang itu pakainnya terlihat merumbai-rumbai. Aneh! Sungguh! Sesosok yang terbang itu, yang tadinya terbang lurus dari arah Timur ke arah Barat, tiba-tiba saja ia berbelok, terbang ke arahku. Aku bisa melihatnya agak jelas saat dia semakin mendekat. Itu seperti seorang manusia, tapi tubuhnya lembut seolah terbuat dari cahaya. Sebab saat sosok itu terbang meluncur menabraku, dia tidak bisa menyentuhku, dia menembus tubuhku.

Sebetulnya, lantaran sesosok yang terbang itu, aku sampai menabrak pohon yang tumbuh liar di tepi jalan dengan keras. Tapi alasan aku jatuh karena melihat sosok yang terbang tidak ku beritahukan pada siapa pun, sebab orang-orang tidak akan ada yang percaya, termasuk ibu dan ayah. Karena kecelekaan itu juga kakiku lumpuh, dan sekarang tidak bisa digunakan untuk berjalan. Kata dokter, tidak lumpuh kakiku hanya untuk sementara waktu, hanya sebentar, sekitar dua bulan lagi akan sembuh total. Kuharap ucapan dokter benar, aku sudah bosan duduk terus di kamar yang semakin hari serasa semakin pengap saja.
***

Ibu dan Charli masuk kamarku. Ibu menawari aku makan, tapi aku menolaknya. Walau lapar, karena tidak berselera, aku memilih untuk tidak makan. Aku lebih suka minum yang manis-manis. Setelah bosan membujukku, ibu meninggalkan aku. Mudah-mudahan ibu tidak marah menyikapi kelakukanku ini.

Sebelum menutup ibu pintu, aku memanggil Charli, memintanya untuk menemaniku. Ibu pun membiarkan kami berdua di kamar ini. Ibu agak mengernyitkan dahi, sebab tidak biasanya aku akrab dengan Charli. Sepertinya Charli senang menemai aku. Tanpa banyak kata setelah aku memanggilnya, ia langsung memanjat ke ranjangku, dan duduk di sampingku sambil tersenyum-seyum. Baru kali ini aku merasa sayang pada Charli, biasanya aku tidak pernah memperhatikannya, selalu cuek, bahkan sering membuatnya menangis karena keasyikan bermainnya selalu aku ganggu.

Aku bertanya pada Charli, tentang apa yang dia tunjuk-tunjuk saat sedang bermain di halam rumah. Aku terhenyak setelah mendengar jawabannya, walau dia mengatakannya dengan terbata-bata dan kurang jelas sebab cedalnya.
“Aku melihat olang telbang…” kata Cahrli sambil merentangan tangannya meniru burung yang mengepakan sayap.
“Terbang! Apa yang terbang, Charli?...” aku berkata sambil membetulkan posisi duduk, dan memegang kedua pundak adikku, menatapnya serius. “Olang pake baju walna putih telbang” Charli mengucapkannya masih sambil mengepak-ngepakan tangan.
Aku banyak bertanya pada Charli, dan berusaha keras memahami kata-katanya yang terbata dan cedal itu. Aku semakin terhenyak. Sebab apa yang diucapkan Charli tidak mungkin bohong, “dia masih bersih”. Kata orang-orang anak seusia itu selalu mengatakn hal yang sebenarnya dari apa yang dilihatnya. Dan, yang tadi Charli lihat di halaman rumah adalah sesosok yang sama-sama aku temui tempo hari. Yang gara-gara ia terbang kearahku aku sampai menabrak pohon.

Charli turun dari ranjangku, dan berlari kecil sambil mengepak-ngepakan tangannya meniru burung terbang meninggalkan aku tanpa berkata apa-apa. Aku juga membiarkannya pergi dan tanpa mengatakan apapun. Mungkin karena tidak percaya dengan apa yang diucapkan Charli aku jadi mengacuhkannya. “tidak mungkin?!” pikirku dalam hati. “Siapa atau apa dia?” ucapku dengan nada tertahan.

Pikiran tentang sesosok makhluk yang terbang itu membuat aku penasaran. Aku mencoba mengingat-ingat sosok itu. Tempo hari aku melihatnya tidak jelas, sebab laju luncur terbangnya begitu cepat. Sulit untuk dikenali. Tapi aku yakin, yang terbang kearahku itu mirip manusia, namun aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Wanita atau laki-laki, aku tidak tahu. Wajahnya terlalu terang oleh cahaya yang memancar, hanya terlihat silau-silau, putih dan samar. Aku pun mencoba memeras pikiran untuk mengingat gerakan dan posisi makhluk yang terbang itu. “mengapa dia berbelok kearahku? Mengapa ia menabraku?”… Oh, Tuhan! Aku tahu. Dia bukan mau menabraku, tapi sosok yang terbang itu mau menangkapku. Setidaknya memang seperti itu aku melihatnya. Aku yakin, sebelum dia menyentuhku, dan sebelum aku memejamkan mata karena takut, aku melihatnya merentangkan tangan seolah akan menangkap aku. “Lalu untuk apa ia menangkap aku? Mau membawa aku, kah? aku semakin penasaran, dan aku takut. Keringat dingin mengucur dari tubuhku. Aku gemetar. Dan akhirnya aku memanggil ibu. “Ibu!!!...”
***

Di sampingku Charli sedang duduk sambil memijat-mijat tanganku. Aku mengusap-ngusap kepalanya. Semakin hari aku merasa semakin menyayanginya saja. Di tepi ranjang aku juga melihat ayah yang sedang duduk, tertunduk dan, air mukanya menunjukan bahwa dia sedang bersedih. Aku tidak bertanya apa-apa pada ayah, tidak juga menanyakan kenapa dia sudah pulang dari kantor. “Charli, mana ibu?...” Charli diam saja waktu aku bertanya, dia hanya terus memijat-mijat lenganku yang sebetulnya tidak apa-apa, menurutku. “Ibu di ruang tamu, sedang berbicara dengan dokter…”Ayah tidak meneruskan kata-katanya, ia juga tidak melihat wajahku saat berbicara. Dan aku juga tidak bertanya apa-apa lagi padanya.

Aku merasa heran? Kenapa ayah dan adikku duduk bersamaku sore ini. dan kenapa juga ada dokter dirumahku, siap yang sakit selain aku? Mungkinkah itu dokter yang telah memeriksaku. Sungguh, hari ini terasa membingungkan. Aku juga tidak tahu ini hari apa? Hal terakhir yang bisa kuingat adalah aku memanggil ibu sebab merasa takut oleh bayangan tentang sosok yang terbang, setelah itu aku tidak tahu apa-apa. Dan hal itu terjadi rasanya baru hari kemarin. Ah, semua ini membuat aku bingung. Dan aku juga enggan menanyakan pada orang-orang yang ada di sekelilingku, tentang semua ini. Ibu masuk kamarku. Lagi-lagi aneh? Ibu berjalan menuju ke arah aku berbaring diranjang, dia menangis terisak-isak, airmatanya jatuh satu-satu menetesi lantai yang berwarna putih. Lama-lama aku muak dengan keadaan seperti ini. Seolah-olah ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku. Aku memalingkan pandangan dari ibu yang sedang mengusap-usap kepalaku, dan ia juga mencium keningku. Aku melihat pemandangan di balik jendela, di sekitar tanaman bunga yang kemarin Charli menunjuk-nunjuk langit di situ. Aku juga melihat langit. Langit begitu biru, luas dan indah dengan awan gemawan yang menebar sekenanya di pojok-pojok langit. Matahari yang dihimpit dua awan putih dan bersih terlihat samara-samar. Aku terus menatap langit. Terus memandangnya sampai-sampai antara pikiran dan penglihatanku mendapati langit seakan-akan berubah menjadi kain berwarna biru dan tipis, yang memungkinkan apa-apa yang ada di balik kain itu terlihat walau samara-samar. Dan, aku memang merasakan di balik kain biru itu ada sebuah singgasana yang sangat megah, lengkap dengan tetamanan yang menghiasi, dan sungai-sungai yang menggurat-gurat kawasan singgasana itu.

Air mata ibu menjatuhi keningku, membuat aku sedikit kaget, dan memudarkan seluruh bayangan singgasana yang ada di balik langit dari alam pikiranku. Aku memperhatikan seluruh keluarga, ayah, ibu dan adikku. Aku mendapati air muka mereka menunjukan suatu kesedihan. Aku memperhatikan mereka dalam-dalam dan baru kali ini aku merasa, aku sangat menyayangi mereka, aku beruntung jadi bagian dari kehidupannya. Airmata meleleh di pipiku, aku membiarkannya mengalir pelan, sebab tenagaku sudah hilang, sekedar mengangkat tanganpun aku tak mampu. Sekarang aku merasa sangat lemah, nyeri dan sesak. Nafasku tersenggal-senggal, jantungku berdegup pelan seolah kehilangan kekuatannya. Aku mau bertanya dan berkata-kata pada ayah dan ibuku, tapi aku terlalu lemah, bibirku hanya bergetar-getar pelan, tanpa mengeluarkan suara, semua kata seakan terkurung di dalam kerongkongan. Tubuhku serasa semakin lemah, beberapa paku terasa menusuk-nusuk organ tubuhku.

Charli yang duduk di sampingku tidak lagi memijat tanganku. Dia tengah memperhatikan langit di balik jendela. Aku pun melihat apa yang sedang dia lihat. Astaga! langit yang tadi biru, indah dengan paduan awan putih dan matahari yang samara-samar ternyata telah berubah. Berubah menjadi merah, merah di mana-mana. Langit seolah menyala-nyala layaknya bara raksasa. Aku pernah melihat pemandangan seperti ini, sebelum aku menabrak pohon yang tumbuh liar di tepi jalan saat mengendarai motor pemberian ayah. Aku terhenyak menyaksikannya semua ini, langit senja memang biasanya merah, tapi langit senja kali ini, merah seperti arang yang masih berpijar, merah dan menyala. Aku menebak-nebak akan mendapati sesosok yang terbang di kolong langit yang seperti menyala, merah dan menyeramkan itu. Lama aku memperhatikan langit yang semakin lama semakin merah, namun aku tidak mendapati sosok yang terbang itu. Aku mengalihkan pandangan, tiba-tiba aku rindu melihat wajah ayah, ibu dan adikku. Padahal hanya beberapa detik aku tidak melihat wajahnya, tapi aku merindukannya.

Oh, Tuhan! Aku tidak bisa meliht wajah ayah, ibu dan Charli. Aku hanya mendapati pemandangan putih, putih dimana-mana. Sesosok yang terbang tengah berdiri di hadapanku. Cahaya yang memancar dari tubuhnya menyembur kemana-mana, membuat kamarku sera terisi kabut-kabut putih, dan hanya putih terlihat. Aku mencoba mengenali wajahnya. Cahaya yang menyala-nyala membuat wajahnya tetap samar. Aku yakin, sosok yang tengah melayang di hadapanku ini adalah Malaikat. Aku tahu itu, sebab tiba-tiba saja aku mengenalnya, seolah-olah ada yang berbisik di telingaku, mengenalkannya padaku, itu Malaikat.

Malaikat yang tengah melayang di hadapanku mendekatiku, dia tersenyum. Aku bisa melihat wajahnya tersenyum walau samara-samar, dan aku merasa sejuk melihat wajahnya yang terlihat indah. Memang aku tidak tahu apakan dia tampan atau cantik, yang aku rasa dan saksikan wajah Malaikat ini indah, bercahaya, berseri dan menyejukan. Dia semakin mendekat. Setelah jarak antara aku dan dia sangat dekat. Malaikat itu pun mengulurkan tangannya, membuka jemarinya yang terkepal. Aneh, aku merasa uluran tanganMalaikat itu bukan untuk mengajak aku pergi, apalagi memaksa aku untuk pergi mengikutinya. Aku merasa dia sedang menyambutku. Menyambut seseorang yang lama meninggalkan tempat asalnya. Oh, malaikat ini menyambutku dengan sangat sopan, sehingga aku merasa bahwa aku harus menyambut hangat uluran tangan sang Malaikat. Walau merasa takut, aku berusaha tersenyum dan tenang. Sekarag aku berdampingan dengan Malaikat. Dan, Malaikat tubuhnya lembut serasa kapas dan bersinar-sinar ini, membawaku terbang, terbang ke suatu tempat yang sepertinya aku tahu apa dan di mana tempat itu. Aku menundukan kepala untuk melihat ayah, ibu dan adikku. Mereka semua sedang menangis sesenggukan. Ibu memeluk tubuhku yang terbaring dengan mata yang terpejam, dan terkadang mengguncang-guncang tubuhku. Dan,ayah memeluk adikku, mendekapnya erat, mereka berdua juga menangis. Menyaksikan itu aku tidak merasa heran. Justru aku tenang. Aku terbang
bersama malaikat.

Aku tidak merasa sudah mati. Aku hanya merasa telah terbang bersama Malaikat.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...