"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Antara Wanita dan Pena

Oleh DASAM SYAMSUDIN

Menurut pak anu… saya lupa namanya. Tapi, kalau gak salah bukunya yang berjudul “Sayap-sayap Patah Pemikiran Kahlil Gibran” Itu kalau gak salah. Kalau mau informasi yang akurat tanya aja ke kang Amien Rais Iskandar, dia punya bukunya.

Intinya gini. Menurut pak anu tadi dalam bukunya, ada ucapan Kahlil Gibran yang berbunyi, “Sesungguhnya nafsu seksual ku tinggi. Namun, aku mencurahkan hasyrat ku itu kedalam tulisan”. Kira-kira kalian percaya gak ucapannya? Jadi, mungkin maksud ucapan Gibran, kalau ia mau mencurahkan kebutuhan bilogisnya (seks) dicurahkannya dengan menulis. So berhubungan or bersenggema dengan pena….”maaf, kira-kira maksudnya begitu kali”. Aku gak tahu yang sebenarnya. Yang aku tahu syah aja menginterpretasi pemikiran orang lain. Dengan syarat dia gak tahu (pikiran yang ditafsirkannya)

Sekelumit kisah ramijud di atas. Bisa ditarik benang merah dan hijaunya. Pertama, Gibran adalah seorang sastrawan hebat. Bayangkan, tulisannya aja bikin kita mabuk kepayang melayang di awang-awang di pengaruhi pemikiran Gibran yang membayang. Kedua, Gibran mempunyai pilihan antara wanita atau pena. Bagi si dia, si Gibran itu. Wanita dan pena gak ada bedanya. Keduanya nampak seksi di depan matannya, dengan gemulai lekuk tubuh wanita dan gemulai goyangan pena yang ditangannya. Keduanya sama-sama menimbulkan hasyrat ingin berkarya. Wanita menghasilkan anak sebagai karya produksi kreativitas si anu….ah jujur aja! Karya penis. Sedangkan pena, menghasilkan hasyrat karya tulisan tangan hasil buah pikiran yang beranak menjadi karya sastra, syair DSB—Dasam Syamsudin Baik dech—sekarang tahu yach yang nulis ini, aku “Dasam Syamsudin”.

Ada apa dengan GIbran? Kenapa dia memilih pena ketimbang wanita? Apakah pena lebih memuaskan? Atau bahkan, pena lebih seksi dari wanita? Atau dia mandul? Atau dia…… (kalian mengerti apa yang aku maksud)?

Semua pertanyaan itu, berputar di dalam sanubariku. Mengobok-obok pemikiranku. Parahnya, telah mempengaruhiku. Jangan sangka aku seperti Gibran yang memandang pena lebih seksi dari tubuh wanita. Bukan! Bukan itu yang ku maksud. Tapi aku terpengaruh oleh pemikirannya. Dan musibah itu menjadi parah saat kang Sukron dan Kang Amien mendokrin lebih tajam. Sungguh ini kejam. Aku tak bisa bernafas lega tanpa menghasilkan sebuah tulisan yang walaupun “acak kadut”. Tapi berusaha adalah bekerja. Bekerja adalah proses. Proses adalah belajar. Dan belajar adalah ibadah. Setuju?! Enggak? Pergi! Jangan baca tulisanku! Kalau kau anggap usaha untuk bisa bukan ibadah. Pergi! Hussss….!

Kalian percaya? Percaya apa? Itu pasti pertanyaan kalian. Gini, dulu aku anggap pemikiran Gibran tentang pena lebih odep dari wanita. Itu sebuah ide gila. Memang si Gibran itu cinta sama Marry… eh Marissa… eh Marsanda apa ya.. Gak tahu ah, lupa. Pokoknya ia cinta sama wanita itu. Namun kecintaanya terhadap dunia sastra—menulis—telah menghabiskan hasyrat seksualnya terhadap wanita. Jadi, ketika ia mau gitu-gituan, yang keluar dari celananya pena. Saya kira apa yang keluar dari dalam celanannya. Pena sudara?! Gibran-Gibran.. ada-ada aja.

Nah, apa yang telah Gibran alamai. Sedikit banyak aku alami juga. Dulu, entah kapan? Aku sangat mencintai seorang wanita. Tahu apa pemicunya? Ya, karena aku normalkan? Normalkan kalau aku mau wanita. Aku kan wanita. Jadi aku mau lelaki—Maksudnya sebaliknya. Tapi saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Setelah aku mengarungi dunia tulis menulis. Ya itu, akibat diracuni sama kedua orang yang tadi ku sebutin. Kang Sukron, dan Kang Amien. Mereka gak tahu aku selalu gelisah karena ingin menulis. Mereka gak tahu penulis telah menjadi harapanku. Mereka gak tahu nama emak dan bapakku. Mereka gak tahu aku punya pacar berapa. Yang aku tahu mereka tahu tulisanku acak-kadut. Bagus, Cuma tahu tulisan yang jelek. Kalau yang bagus. Pasti di tiru hak cipta—tulisan yang bagus masih dalam proses pracipta—gak ngerti ya? Sama!.....

Itulah sebuah kisah nyata dari Negeri sastra. Kalian tahu kenapa banyak karya patung telanjang mempraktekkan berbagai variasi cara hubungan seks? Dimana patung itu kebanyakan? Baratkan? Tahu alasannya? Tahu? Baik kita sharing aja. Konon para pembuat karya patung-patung tersebut, adalah orang-orang yang mencurahkan nafsu seksnya dengan membuat karya. Karya tersebut, patung telanjang itu. Jadi, bagi sebuah sastrawan yang telah mendarah daging, bahkan menulang mendaging. Sastra adalah sebuah kehidupan yang lebih indah dari kemolekan tubuh sang wanita pemuas……. Mereka para sastra yang aku ceritain tadi. Mendapat kepuasan tersendiri ketika mempunyai karya sastra. Sehingga, karena jarang atau bahkan tidak pernah bersenggema. Ya, akibatnya, tulisan, patung, arca dan lain sebagainya mereka gambarkan tentang apa yang ia inginkan dari wanita. Aneh ya? Atau memang tulisanku fiktif? Gak percaya cari sendiri! Hmmmmmmmmm….

Kisah sama dialami. Si Qois, pecinta sejati Laila. Siapa yang bisa membuktikan, bahwa mereka pernah berciuman secara fisik? Ayo jawab! (aku berteriak), ayo! Siapa yang bisa buktikan? Saya bisa. Siapa kamu? Dasam Syamsudin. Silahkan! Qois, mencurahkan nafsu seksnya sama gilanya dengan Gibran. Cuma beda caranya dikit-tipis. Gibran kan dikenal tulisannya. Nah, kalau Qois ini dikenal dengan syair-syairnya. Senandung kata yang tersusun dari lidah si Majnun itu gambaran dari kerinduan pada si Laila. Dengan syairnya ia ungkapkan rindu, cinta, ingin bertemu, ingin pegangan tangan, ingin mencium dan ingin…. (Kalian tahu maksudku). Sebenarnya, yang benar sampai mencium. Maaf aku terlalu ekstrem. Wajarlah, calon penulis. He!—maksudnya ketawa degan cepat—jadi he!

Dari semua itu. Pasti kalian berpikir. Kok ada lelaki yang memilih pena—istilah dunia pengetahuan (persepsiku)—ketimbang wanita? Semua orang juga bilang gitu, coy. Ada batas-batas usia, yang memang kita harus memilih pena dari pada wanita. Coba tuh adik kamu yang usianya 5,5 tahun kasih wanita. Pasti dia mau? Mau memilih belajar dalam kurung sekolah. Gak salah kan, memang seharusnya. Seorang remaja mengutamakan pena ketimbang wanita. Ya, anggap aja pena seksi sama seperti wanita. Apa susahnya. Kan di Indonesia, suatu penyimpangan norma. Jika remaja yang pada usia wajib belajar. Eh, malah menggoyangkan bokong wanita bukannya pena. gila itu.

Ada juga saat wanita harus kita pilih. Tanya aja ke kakek kalian. Pasti dia lebih tahu. Maaf. Bukannya gak adil. Aku paling males bahas wanita. Kalian cari sendiri aja ya tentang wanita dari berbagai literasi. Bukanya aku gak tahu. Aku mau pena dulu. Tapi, kalaupun kalian pilih pena, kalau saatnya harus punya wanita. Carilah wanita yang baik. Yang bisa menambah dan mendukung kita membuat karya. Gak usah harus dengan pena. Karya apa aja. Cuma, yang pasti dengan pena semua ilmu dan sastra telah kita konsumsi. Kalau gak ada pena, mungkin semua ilmu gak akan bertahan lama. Maka pantas Allah bersumpah, Demi pena. Dan apa yang dituliskan”…. Wallahu ‘Alam.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...