"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Bencana dan Kesadaran Sosial

Oleh DASAM SYAMSUDIN

Bila laut tak sempat terkendali / Tsunami datang menyapu bersih/ Bila tanah mulai memecah belah/ Hempaskan milik seluruh kota
Seisi negeri jadilah hamparan/ Tersisa hanya puing kehancuran/ Banyak jiwa tertimbun mati/ Sanak saudara hilang entah kemana?/ Tanah menjadi lautan darah/ Yang terdengar jerit merintih
Lihat mereka-mereka terkapar/ Korban dari mengganasnya alam/ Gedung-gedung jadi urug dan tanah/ Sawah ladang rusak berantakan/…

Syair lagu group band Power Metal di atas, sedikit-banyaknya memberi gambaran pada kita tentang bencana alam, keruksanakan dan kerugian yang ditimbulkannya. Lebih dari itu, lirik lagu yang berjudul Timur Trgadi itu ternyata telah menjadi realitas. Sebab, kata negeri terkena bencana sekarang telah akrab ditelinga dan sekaligus selalu menjadi pemandangan yang sering disaksikan di media, baik media massa, elektronik dan juga online.

Untuk beberapa masyakarat, bencana telah menjadi terror yang nyata. Karena kehadirannya terasa sangat dekat, bisa muncul dengan tiba-tiba tak mengenal siapa korbannya dan tak peduli apa yang akan ditimbulkannya, bisa jadi seisi negeri hanya jadi hamparan yang berantakan, kosong, penuh kesengsaraan dan kematian.

Di negeri Indonesia yang konon negeri subur dan kaya akan alamnya—yang konon menanam tongkat saja bisa tumbuh jadi tanaman—ternyata sekarang telah menjadi porak poranda akibat rangkaian bencana alam yang datang silih berganti, laksana ombak yang saling mengejar. Indonesia, negeri yang selalu dipuja akan kemakmuran dan potensi-potensi alamnya yang luar biasa kini marah, mengancam, dan mengganas dengan menumpahkan lautan, mengguncang-guncangkan tanah, mengguyurkan air hujan jutaan-triliunan liter sampai-sampai menjadi sebuah banjir, udara menjadi saksi bisu pesawat-pesawat yang berjatuhan, kereta terlepas dari relnya bergulingan, bencana, kecelekaan, sekarang telah menjadi tamu mengerikan di Indonesia yang kerap hadir.

Bencana, sungguh hal yang sangat mengerikan. Kontur alam yang teratur, indah dan menentramkan bisa berubah menjadi “neraka dunia” dengan waktu yang sangat singkat. Ratapan, tangisan, kesedihan, jeritan pilu, rasa sakit, dan kematian akan menjadi pemandangan yang sangat mengerikan saat bumi mengamuk memporak porandakan permukaan dan menghamburkan seluruh penghuni lengkap dengan hasil karya hidupnya. Tawa canda kebahagiaan hidup karena banyak harta, atau penuh cinta, atau kesederhanaan yang menentramkan, atau bahkan kemiskinan yang menyedihkan akan menjadi sama rata saat bencana datang: semua menjadi kesedihan dan penderitaan.

Al-Quran menyebutkan dua alasan untuk negeri yang sering ditimpa bencana. Pertama, karena di negeri itu terlalu banyak “orang-orang berdosa”. kesalehan sosial hanya menjadi tema kehidupan bukan realitas. Terlebih, jika para penguasa negerinya (para pejabat pemerintah) mengalami degradasi moral, melupakan rakyat, peraturan hanya untuk kesejahteraan individual pemerintah, bukan untuk pemerintahan itu sendiri terlebih untuk rakyat.

Kedua, karena ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab merusak alam. Hutan ditebang dengan brutal dan tak ditanami lagi, lautan dirusak, hewan-hewan langka dibinasakan, banguan didirikan tak beraturan mengikis ekoligis tumbuhan, teknologi berkembang tak terkendali menyebarkan polusi, penyakit, dan ketidak nyamanan hidup; system keamanan transportasi tak teratur dengan baik sehingga rangkaian kecelekaan sering terjadi, gunung digunduli, sawah dan ladang semakin sempit dan terlalu diabaikan, dll.

Jadi, antara kesalehan individual—keimanan pada Tuhan—dan perilaku manusia dengn alam itu sangat berkaitan erat. Logika sederhananya, jika alam dikehendaki memberi kesuburan, ketentraman dan kenyamanan hidup berarti manusia pun harus memperlakukannya dengan layak. Apalagi, jika memang Negara mengharapkan karunia Tuhan agar Negaranya senantiasa dilindungi dan dirahmati, manusia pun harus memenuhi kewajiban-kewajibannya. Kecuali, jika manusia memang tidak peduli dengan alam, membiarkannya bahkan merusaknya, dan negeri ini mau melepasakn diri dengan aturan Tuhan, itu sama saja—secara tidak langsung—manusia mengundang bencana: seolah-olah membuat alam membalas perbuatan manusia yang merusaknya sebagai peringatan dari Tuhan.

Para penghuni bumi pertiwi yang tercinta ini, saatnya menyadarkan diri. Betapa alam menginginkan manusia untuk menjadi orang-orang baik yang merawatnya, sebab hal itu sama saja dengan merawat kehidupan untuk kenyamanan. Buat apa menumpuk harta, memperindah hidup tanpa mempedulikan tanah tempat ia berpijak menjadi nyaman seandainyan—jika bencana datang—hanya akan menambah penderitaan karena terlalu banyak kehilangan.

Tuhan, betapa ia mengingatkan manusia agar menjadi hamba-hambanya yang saleh. Sebab kesalehan itu memperbaiki hidup, menentramkan jiwa, menenangkan hati dan “membuat alam” menyenanginya. Sebab, makhluk Tuhan (seluruh alam semesta beserta isinya) itu akan menyayangi dan menjaga manusia yang saleh pada Tuhan, karena Dia memerintahkannya seperti itu. Kepedulian pemerintah pada rakyat, kepeduliaan sosial; saling menolong, dan saling memberi perlindungan pada yang lain, itu yang diinginkan Tuhan. Bukankah semua itu kebaikan yang membahagiakan? Bukankah orang jahat juga menginginkan orang lain peduli dan tidak menginginkan bencana?

Adakah alam mengamuk menimbulkan malapetaka mematikan jika dirinya dijaga dan dilestarikan? Kalau pun ada bukan bencana yang menghancurkan secara besar-besaran. Dan, kalau pun ada bencana besar bukan disebabkan kerusakan alam, biasanya bencana itu hadir karena kerusakan moral dan terlalu banyak penduduk negeri yang membangkang Tuhan. Bukankah sejarah mencatat semua itu? Wallahu A’lam.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...