"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Ayah, Maafkan Aku

Cerpen SYAMSUDIN eL-FAQIRUL’ILMY

Ayahku seorang penulis, telah banyak karyanya, termasuk Cerpen ini. Di sela-sela kebingungannya mencari ide untuk bahan tulisan. Ia sering mengajaku jalan-jalan menyusuri pantai, taman kota dan tempat-tempat indah lainnya di sekitar kota Jakarta. Aku sangat akrab dengan ayahku. Jalinan hubungan kami begitu sangat intim. Sampai-sampai terkadang terkesan romantis. Untuk ukuran keluarga itu memang wajarkan?

“Ayah sebesar apa kasih sayangmu pada Nia” aku bertanya pada ayah saat ia berdiri menikmati pemandangan pantai di Ancol. Mendengar itu, ia tersenyum dan menatapku, kemudian berkata,

“Emmm… sebesar apa ya? Mungkin seperti aku menyayangi ibumu”. Aku senang ayah berkata begitu. “tapi kenapa ia menyamakan kasih sayangnya dengan ibu?” saking senangnya, aku sampai tidak sadar memeluknya erat-erat. Entah ia kaget atau tidak? Yang pasti ia juga membalas pelukanku. Walaupun hanya sebentar.

“Kalau sayang, kenapa gak pernah cium aku?” kataku, bukan rayuan.

“Udah, malah sering. Dulu waktu kamu kecil”

“kapan? Aku gak pernah merasakan ciuman ayah” lanjutku. Tapi ayahku tidak merespon. Ia terus saja menatap lautan biru di bawah cakrawala, dimana ombak berlari saling mengejar.

“Yah, kasih sun donk! Mau tahu ciuman ayah yang dulu” Aku berkata penuh malu. Pensaran dengan ciuman ayah yang katanya pernah sering berikan. Mungkin sekitar 16 tahun yang lalu, aku sendiri lupa.

Ayah tersenyum lagi mendengar ucapanku. Walau akhirnya ia memang mengecup keningku. “kamu ada-ada saja”kata ayahku.

Setelah itu, ia mengajaku pulang. Karena mentari di Barat sudah meredup dan kehilangan kekuasannya.

***

Sekitar pukul 17.45, kami sampai di perumahan Cempaka Putih, di sana rumah kami berada. Di rumah Ku lihat ibu duduk di atas sopa ruang tamu. Duduk penuh keletihan, mungkin karena cape bekerja seharian menunggu toko. Ayah lebih dulu masuk ke rumah. Ia pun sepertinya kaget melihat ibu sudah berada di rumah. Dengan penuh kasih sayang, ayah memberi kecupan pada keningnya. Entah kenapa? Menyaksikan kebahagian ayah dan ibu hatiku serasa aneh. Tapi, perasaan itu aku buang dengan menonton Televisi.

Orang-orang di dalam layer kaca itu, tidak ada yang bisa menghiburku. Dengan penuh kekesalan dan perasaan yang tidak tentu. Aku menekan tombol remot dan memindah-mindahkan acara televisi, dan terus mengulanginya dengan emosi. Akhirnya aku lemparkan remot itu ke atas sopa. Karena bosan dengan suasana dan sekali lagi entah kenapa perasaanku begitu tidak menentu, aku memutuskan pergi ke kamar untuk tidur.

Di kamar aku membuka jendela dan menatap langit yang melebarkan selimut kegelapannya menutupi seluruh cakrawal. Ribuan tentara cahaya langit penghias gelapnya malam, belum ada yang hadir satupun. Tidak ada keindahan langit, padahal ia baru saja menutupi siang. Yang ada hanya gelap dan sorot lampu yang berjajar di pagar rumah.

Memperhatikan kegelapan angkasa. Hatiku begitu tenang. Padahal sebelumnya aku baru saja menikmati keindahan lautan. Aku terasa cocok dan nyaman dengan kegelapan ini. Di balik lamunanku, kurasakan seolah-olah ada pesan dari sang kegelapan. Entah apa pesan itu? Yang aku tahu bisikan itu tidak baik. Tadinya aku menolak, namun setelah itu aku tak berdaya. Mengalir seperti apa yang akan ia inginkan. Aku tetap kaku tak bergerak, terus merasakan pesannya. Setelah terasa, aku menolaknya lagi. Tapi kali ini aku lebih tidak berdaya. Menolaknya pun aku tidak bisa. “kau akan bahagia dan tenang” kira-kira itu bisikan yang terasa.

Malam semakin gelap. Dan bidadarinya baru saja muncul dari balik awan gelap. Sedangkan aku semakin bingung dengan kondisiku. Aku memejamkan mata, mengkerutkan kening. Dan menutupi telinga dengan kedua tanganku. Berusaha melepaskan bisikan di dalam pikiran dan hati yang terus mengganggu.

Untuk melepaskan semua itu. Aku berlari menuruni anak tangga untuk menemui ayah dan ibu, terutama ayah. Karena ia yang bisa menenangkan semua ini. Sebagaimana sebelumnya ia menenangkanku dari jeratan yang hamir setiap malam aku rasakan. bahkan, disetiap kali aku merasa sepi dan terhanyut oleh lamunan. Perasaan atau bisikan itu akan datang dan terus mengganggau.

Satu demi satu anak tangga aku pijak menurun. Dengan langkah yang cepat menuju ruang peristirahatan dimana ayah dan ibuku sedang duduk berdua. Dengan tergesa-gesa dan tanpa permisi aku meraih daun pintu dengan tenang untuk menemui mereka. Perasaan kaget, tidak percaya, dan aneh kenapa perasaanku terasa hancur. Aku memergoki ayah dan ibu bercumbu dengan sangat mesra. Entah mereka tahu atau tidak? Aku kembali ke kamar dengan berlari dan tidak sengaja menyandung guci di sisi tangga. Guci pecah menimbulkan jeritan yang aku yakin akan mengundang kepenesaran ayah dan ibu. Sebelum mereka tahu. Aku melanjutkan langkahku dan membuka daun pintu kamar dengan keras. Kemudian merebahkan tubuhku dan berusaha membuang perasaan. Yang sekali lagi aneh. Karena tidak semestinya aku seperti ini dengan perasaan ini.

Di bawah, kudengar suara langkah kaki menginjak anak tangga dengan tergesa seakan mengejar sesuatu. Mereka ayah dan ibuku.

“Apa yang terjadi sayang?” Ibuku berusaha memecahkan kepenasarannya. Sedangkan ayahku hanya berdiri saja di samping tempat tidur.

Tidak ada pertanyaan mereka yang aku jawab. Bahkan sentuhan tangan ibu yang mengusap kepalaku, aku singkirkan dengan kasar. karena kehadiran mereka, atau ibuku membuatku semakin tidak nyaman. Tidak pikir panjang aku memeluk ayah dengan erat tanpa mengatakan sepatah katapun. Melihat itu, ibuku terus berbicara menenangkanku dan berusaha memelekku. Tapi aku tidak menghiraukannya.

Sepertinya ibuku merasa heran. ia mengajak ayahku kekamar mereka. Dengan ajakannya, ayahpun melepaskan jeratan pelukanku dan tanpa seucap kata ia meninggalkanku kembali di dalam kesendirian.

Sudah kukatakan, kesepian bisa mengembalikan bisikan dan perasaan aneh itu. Kali ini, dengan emosi perasaan itu terus membisik dan merayuku sampai-sampai aku benar-benar tidak berdaya dan harus mengikutinya. Mungkin harus? Atau perasaanku hancur.

Waktu sudah sangat larut malam. Kegelapan benar-benar menguasasi dunia. Dan itu terasa di dalam diriku. Gelap dan sangat gelap aku merasakan gejolak jiwa yang terus menyerang dan mempercepat detak jantungku. Saat mencapai pada puncaknya. Dimana aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Yang aku tahu, perasaanku memimpin apa yang hendak akan aku perbuat ini.

Langkah kaki membawa aku ke depan pintu kamar ayah dan ibu. Sesaat aku terpaku dan berpikir, kemudian mengabaikan suara hati dan mengikuti perasaan. Tidak lama aku berdiri. Kembali melangkahkan kaki dan menuju dapur. Di sela-sela sendok dan garfu, aku melihat sebilah pisau tajam dengan warna silver bercahaya. Pisau itu aku genggam dengan erat dan penuh emosi yang menggebu. Dengan langkah pelan dan hati-hati aku berjalan menuju kamar ayah dan ibu. Kebetulan pintu kamar mereka tidak terkunci. Dengan sangat pelan dan apik aku menginjakan kakiku di lantai kamar. Di depan ranjang aku menatap mereka. Melihat ibu meletakkan tangan kirinya di atas tubuh ayah dan menjadikan dadanya yang bidang sebagai bantal.

Melihat ayah aku tersenyum. Lalu berjalan mendekatinya, berdiri di sampingnya. Dengan tangan yang masih menggenggam pisasu. Aku mengusap pipinya dan berusaha membals ciumannya tempo dulu. Saat kami di pantai Ancol. Tidak terasa aku meletakkan kepalaku di atas dada ayah. Suasanaku jadi tidak nyaman saat kepalaku beradu dengan kepala ibu. Ibu bangun dan kaget. Tapi, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Ku lihat ibu akan mengatakan sesuatu. Terlihat dari bibirnya yang bergetar dengan sorot mata yang heran. Tidak ada kesempatan ibu untuk bicara. Semuanya telah terlambat untuk menyapa anak yang ia sayangi ini. Karena pisau yang aku genggam. Kini telah menancap, melubangi jantung kehidupannya. Pisau ku cabut kembali dengan lumuran darah segar. Kemudian aku menatap ayah yang masih terlelap dan tersenyum padanya.

Setelah puas menatap ayah. Aku kembali menatap ibu dengan darah yang masih mengalir dari dalam dalam dadanya dan melumuri selimut putih dengan darah merah yang sebetulnya aku ingin meminumnya. Mata ibuku melotot, sepertinya ia menatapku penuh emosi. Aku kesal padanya kenapa terus memandangku begitu. Dengan sangat kesal dan emosi aku kembali menusuk tubuh ibuku.

Kerasnya tusukan itu. Mencipratkan darahnya kemuka ayah dan spontan membangunkannya. Ayah sangat kaget melihat tubuh ibu yang berlumuran darah. Tidak lama ia memalingakan tatapannya dan memandangku penuh emosi dengan pisau yang masih aku genggam dan meneteskan darah. Aku membalas tatapan ayah dengan senyuman. Tapi ayah menggamparku dengan sangat keras dan melemparkan pisau jauh kelantai. Aku tersungkur. Ayah sungguh kejam padaku bahkan ia mengacuhkanku.

Ayah menangis sembari memeluk tubuh ibu dengan penuh kasih sayang dan ketidak percayaan. Aku tahu, sepertinya ia tidak suka dengan apa yang telah aku lakukan. Padahal, semua itu demi aku dan ayah. Aku tidak menyesal melakukannya. Karena aku sangat mencintainya dan mau hidup dengan tenang dengannya. Ia malah menolakku bahkan menamparku.

Ayah, maafkan aku » sungguh aku menyesal. Aku pantas hidup dalam kesendirian di Rumah Sakit Jiwa ini.[]

3 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...