"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Kriteria Manusia Beserta Sifatnya Berdasarkan Letak Geografis dan Gaya Hidup


Manusia adalah makhluk Tuhan dengan spare part terlengkap dan tercanggih. Manusia dibekali akal  nalar tidak hanya hawa nafsu dan insting. Manusia juga dibekali spare part adaptasi untuk penyesuaian dirinya terhadap lingkungannya juga sebagai bentuk pertahan dirinya agar terus eksis didunia ini. Bahkan manusia juga dibekali spare part “ambisi dan obsesi” sebagai alat perkembangan dirinya dalam pencapaian beberapa keinginannya, harapannya, cita-citanya, pembuktian dirinya, pemenuhan kebutuhan hidupnya. Jarang sekali ditemukan manusia yang merasa cukup atas apa yang telah ia miliki. Dan dengan cara ini pula manusia akhirnya tetap ada dimuka Bumi tercinta ini. Contoh beberapa kasus proses adaptasi manusia pada lingkungannya yang akhirnya mempengaruhi sifat kebribadiannya baik secara perseorangan maupun perkelompok.



1. 
JEPANG.
Jepang adalah salah satu Negara yang cukup disegani. Jepang adalah Negara yang maju yang menjadi salah satu pusat teknologi dunia. Jepang juga memiliki tingkat ekonomi yang tinggi. Selain itu juga, Negara Jepang terkenal akan seninya yang khas, indah, memukau. Dan semua orang tahu, bahwa Jepang bukanlah Negara seperti itu sebelumnya. Perubahan itu terjadi ketika perang dunia ke-2 terjadi lalu peristiwa “Hiroshima-Nagasaki” terjadi. Jepang sangat amat terpuruk waktu itu. Kehilangan setengah dari penduduknya yang wafat akibat ledakan nuklir, belum lagi efek ledakan nuklir yang sangat amat berbahaya, yang juga menghantui Jepang hingga berpuluh-puluh tahun setelah itu, (karena ledakan nuklir juga memiliki efek jangka panjang). Bahkan belum lagi kerugian secara financial yang harus ditanggung Jepang karena hal tersebut. Tapi ini adalah salah satu cara Tuhan dalam membimbing makhluknya untuk berkembang lebih jauh lagi, untuk menggunakan akal fikirannya lebih optimal lagi. Meski sebelum kejadia tersebut Negara Jepang sudah terkenal dengan julukannya “negeri matahari terbit”, akan tetapi setelah kejadian tersebut, Jepang menjadi lebih terbit lagi. Masyarakat jepang mulai membenahi diri mereka, kembali beradaptasi dengan lingkungan hidup mereka yang cukup ekstrim, salah satu caranya adalah, mereka mulai mengirimkan pemuda-pemudanya untuk belajar keluar negeri,menimba ilmu sebanyak-banyaknya untuk kemudian mereka harus mengabdi pada Negara tercinta mereka. Dan sekarang, kita dapat melihat, jepang sudah menjadi salah satu Negara termaju di Dunia. ?? Dan mungkin juga karena jepang adalah Negara yang mengalami 4 musim. Belum lagi, GEMPA yang menjadi makanan sehari-hari disana. Jadilah masyarakat jepang adalah orang-orang yang memiliki kepribadian teguh dan kuat, tidak lemah dan pemberani, bagaimana tidak, kalau mereka berjiwa lemah sudah jelas mereka akan  dimakan oleh gempa dan juga musim yang tidak bersahabat tersebut.
 Dan inilah sepuluh rahasia sukses manusia jepang dan juga sepuluh cara manusia jepang bertahan hidup ditengah kerasnya budaya hidup di Jepang. Dan ini juga jawaban dari MENGAPA MASYARAKAT JEPANG TERKENAL DENGAN SIFAT KERAS MEREKA?? SIFAT DISIPLIN MEREKA?? BAHKAN SIFAT MEREKA YANG SEDIKIT MENDEKATI KEJAM.

1.     Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2.    Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum. (Coba para pejabat kita mempunyai sifat kayak gini ga bakalan ada deh yang namanya KKN)

3.    Hidup Hemat


Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4.    Loyalitas

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.


5.    Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6.     Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7.     Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8.      Kerjasama Kelompok


Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9.       Mandiri

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak penulis ,yang paling besar sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
 
  • Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.
 bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” 


2.  BATAK
samosir no.14 says:  orang batak itu muka rambo tapi hatinya rinto…
Kenapa sebagian besar orang Batak adalah orang yang berpendirian kokoh?? Kuat dalam memegang pendapat? Setia dalam persaudaraan dan lain-lain termasuk, sepertinya jarang yah orang Batak yang bisa berbicara dalam nada yang lembut. Mungkin ini sedikit bisa membantu kita dalam mendapat jawabannya..


Nada tinggi yang biasa keluar dari mulut orang Medan biasa dijumpai pada orang Batak dari pegunungan, seperti daerah Samosir. “Karena di sana wilayah perkampungannya jauh-jauh, di daerah pegunungan pula. Sehingga mereka harus berteriak-teriak untuk memanggil. Tapi hatinya belum tentu keras, sehingga tidak terpancing emosinya. Apalagi yang sudah terdidik,” tutur Prof. Bungaran. “Karakter mereka memang ekspresif. Dan cara mengekspresikannya sendiri lebih ekstrem, jadi terkesan emosional. Tapi tidak semuanya temperamental,” katanya.

Dalam sejarahnya, di Tano Batak, memang tak ada kerajaan (kingdom) atau kesultanan yang pernah menguasai seluruh marga hingga menciptakan budaya dan hubungan antara raja dengan kawula (rakyat). Tak  ada yang dipertuan, tak ada yang diperhamba.  Masing-masing marga, kendati punya ikatan dengan induk marga dan marga lain, memiliki otonomi dengan wilayah dan kekuasaan sendiri. Dalam internal marga (atau sub-marga) pun tak dikenal kerajaan dan hegemoni yang bersifat monarkhi atau dinasti. Yang ada hanya namarharajaon karena memiliki kekuatan, wibawa, kepemimpinan, kekayaan, kesaktian, atau kekuatan-kekuatan yang bersifat supranatural.
 
Orang-orang yang memiliki hal-hal di ataslah yang kemudian jadi menonjol dan dominan atas suatu wilayah (huta), termasuk karena ekspansi (mambungka harajaon). Sekadar contoh, leluhur dan orangtua penyair Sitor Situmorang (Ompu Babiat Situmorang Suhut Nihuta), semula berasal dari wilayah Palipi-Urat, Pulau Samosir, namun kemudian menguasai Lintong, Tele,  Harianboho, bahkan sebagian wilayah Dairi, karena wibawa dan kesaktian. (Banyak yang mengakui, kendati sulit dicerna akal sehat, bahkan oleh Sitor sendiri). Marga dan sub-marga lain pun banyak seperti itu, menguasai suatu wilayah karena ekspansi dan penaklukan.

Yang pasti, masing-masing marga dan sub-marga punya otonomi yang tidak bisa dikooptasi marga lain. Yang bisa terjadi adalah penguasaan terhadap individu-individu, diparhatoban, bahkan dahulu kala diperjual-belikannamun bukan penguasaan atas suatu marga atau sub-marga.  


Otonomi marga dan keinginan untuk menjaga harkat ini pula yang banyak mendorong perpindahan orang-orang yang tertekan atau tertawan ke wilayah lain. Di wilayah baru, akan mereka usahakan pula menegakkan harajaon dengan cara membuka kampung dan perlahan-lahan menguasai sumber-sumber nafkah.  Kecuali bagi yang akhirnya kompromi atau menyerah agar mudah diterima warga asli, orang Batak yang melakukan migrasi ke luat sileban (wilayah asing) akan mati-matian mempertahankan tradisi dan cara pandang atas kehidupan, termasuk sistem dan aturan peradatan,  serta konsep harajaon


Pendeknya, otonomi, kemerdekaan, harkat, menjadi sesuatu yang diagungkan dan karenanya harus dipertahankan. Boleh jadi, itu yang membuat mengapa orang kuat nan sakti yang pernah ada di Tano Batak, sulit mengklaim diri sebagai raja atas seluruh marga dan huta di seantero Tano Batak. Bahkan dinasti Sisingamangaradja (Sinambela) pun dikatakan punya tandingan kuat di Samosir (Gorat) dari keturunan Palti Raja (Sinaga). 


Kuat pula dugaan, beratnya upaya menaklukan suatu wilayah dan marga yang kemudian membentuk lahirnya lembaga Bius, yakni kekuasaan kolektif beberapa marga yang mengedepankan musyawarah. Gagasan tersebut sangat mungkin berasal dari kesadaran yang tinggi pada realitas bahwa ketimbang bertempur terus yang menghabiskan harta dan keturunan, lebih baik berdamai dengan cara menghormati dan mengakui otoritas marga lain.

Kearifan tersebut lalu menjadi nilai-nilai anutan dan juga norma-norma yang diperkuat hubungan adat berdasarkan aturan yang kini disebut Dalihan Natolu. Agar  dihormati, harus siap menghormati; agar diakui, harus mau mangakui yang lain. Untuk menguatkan konvensi tersebut, dibuatlah uhum dan ugari, juga poda  untuk menjaga tata-krama dan tingkah pribadi.  Intinya, ada kesetaraan, pengakuan, penghormatan. Bila di situ mengaku raja, maka di sini pun raja.  Pengakuan atas ‘sama-sama raja’ inilah yang kemudian bergeser ke dalam bentuk tuntutan perilaku, sikap, cara bicara. Anakni raja, bukan dalam pengertian kuasa yang bisa diwariskan, melainkan menyangkut perangai dan perbuatan seseorang.


Kentalnya doktrin ‘sama-sama raja’ dan penekanan egaliter itu, dalam perkembangan, membuat orang Batak begitu sensitif menyangkut harga diri, yang kadang disalahpahami hingga terkesan berlebihan dan lari dari makna hakiki. Sesungguhnya, itu berasal dari kuatnya penekanan pada hak dan kewajiban adat, tata krama, yang lazim disertai perbuatan sebagai bentuk penghormatan, termasuk pemberian jambar (hak untuk mendapat sesuatu, termasuk bicara).


Barangkali, sifat tersebut bisa dipelajari dari arsitektur rumah adat Batak yang untuk masuk ke dalam harus menundukkan kepala, yang bila dipaksa tegak akan membentur ruma adat, namun  setelah pintu dibuka akan terlihat ruang lowong tanpa sekat, hampir tak ada rahasia yang disimpan tuan rumah.  Menghormati pihak lain, merendah, terbuka, tak mengada-ada melebihi yang diakui masyarakat adat, saya kira hanya itu cara termudah untuk meluluhkan orang Batak.




narasumber :

http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/03/12/tsunami-dan-rahasia-kehebatan-jepang/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...