"Terimakasih Atas Kunjungannya, Semoga Anda Banyak Rezeki, Banyak Anak, Dan Masuk Surga. SALAM CINTA"

Kematian Osama antara Nafas Umat Islam dan Kemenangan AS


Warga AS tumpah ruah ke jalan dan bersukacita atas kematian Osama Bin Laden. Ribuan orang berkumpul di depan Gedung Putih di Washington DC dan di Times Square. Bendera AS berkibar di tengah yel-yel kemenangan dan lagu kebangsaan. KOMPAS.com
Semenjak Gedung Pencakar Langit, Word Tred Center (WTC) dihajar pesawat pada tanggal 11 September 2001. Amerika dengan tegas dan tajam langsung meletakan telunjuknya ke hidung Osama. Meski tidak ada informasi akurat apakah pelaku yang memimpin penyerangan menggunakan pesawat itu benar-benar di pimpin oleh Osama. Tapi Amerika sangat yakin akan tuduhannya itu, sehinga menetapkan tanggal itu sebagai hari yang menjadi awal bagi terbukanya permusuhan dengan Osama. Osama dan pengikutnya adalah teroris.

Sebetulnya, semenjak Insiden penyerangan pada gedung WTC pun, merupakan pukulan berat bagi umat Islam di dunia (mungkin tidak semua). Dan hal itu ditambah dengan tindakan Imam Samudera Cs yang melakukan pemboman di Kecamatan Kuta, Pulau Bali pada tanggal 12 Oktober 2002. Sehingga semenjak saat itu Umat Islam selalu dicurigai, sering dikatikan dengan terorisme. Bahkan beberapa orang tidak lagi meletakkan kata teroris pada “Umat Islam”, melainkan pada Islam itu sendiri. “Islam adalah teroris”, atau “terorisme Islam”. Dan hal itu merupakan fitnah yang sangt besar, yang sangat mengancam dan menakutkan untuk sebagian umat Islam melebihi aksi terorime itu sendiri.

Oleh karena itu, aksi terorisme yang terjadi selama dekade ini bukan hanya dirasakan keresahannya oleh rakyat Amerika, tapi bagi umat Islam itu sendiri. Sebab meski bagaimana pun, Osama bukanlah ikon Islam, ia bukan pula gambaran dan ajaran Islam. Osama bukan sandaran kehidupan Islam layaknya Nabi Muhammad yang bisa menjadi tauladan. Begitu pula kasus Bom Bali dan Imam Samudera Cs, tindakannya bukanlah bentuk ajaran Islam. sehingga seperti yang sudah di singgung sebelumnya, aksi penghancuran WTC dan Bom Bali itu sendiri merupakan jerat yang sangat menyesakan dada bagi umat Islam. Sebab setiap kali ada aksi yang “berkonotasi mengancam” bagi kehidupan social, lagi-lagi yang sering-dengan tidak mengatakan selalu-dituding adalah Islam.

Jadi, jika berbicara tentang terorisme, ketakutan, ancaman, kecurigaan, dan hal semacamnya, siapakah yang lebih merasakan ketakutannya. Amerika, atau kah umat Islam sendiri.

Di satu sisi-tidak dalam segala hal-Amerika menuduh Islam adalah teroris. Dan di sisi lain, Umat Islam sendiri merasakan hal itu tuduhan yang sangat menyakitkan dan menyesakan kehidupan keberagamaan. Bahkan ketakutannya dan kebebasan nafas Islam begitu serasa terhimpit tudingan itu. Saya jadi ingat suatu kalimat (ayat ) yang sering diucapkan. “Fitnah lebih besar dari pada pembunuhan”.

Sekarang Amerika bergembira atas kemtian Osama, bahkan hal itu dirasakan sebagai bentuk kemenangan. Dan yang jadi pertanyaan, benarkah kematian Osama Bin Laden akan mendinginkan dunia dari kata “terorisme”?

Prof. Dr. Amien Rais ketika ditanya persoalan tersebut pada sebuah acara televisi menjawab (TV One, Kabar Malam), “Aksi terorimse tidak akan hilang selama akar terorisme ini tidak dihilangkan.”

Pertanyaan lain muncul, “Akar terorisme, mungkinkah akan dikaitkan kembali dengan Islam?”

Dasam Syamsudin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...